Mencoba hidup sederhana. Ya, tema itu yang hari ini sedang aku alami.
Bagaimana ketika hidup dalam keadaan yang mungkin, anggapan bagi sebagaian
orang tidak layak, serba kurang, dan lain sebagainya. Yang intiya, teman saya
itu merasa iba, tanda kutip, tatkala ia masuk ke dalam ruangan yang berukuran
3×4. Kos saya sekarang ini.
Tiga hari yang lalu, saya mendapatkan kos baru di daerah
Demangan-Yogyakarta. Selama kurang lebih 4 bulan hidup di Jogja. Sudah 3 tempat
kos-kosan yang aku singgahi (baca: nebeng). Kos yang pertama, saya habiskan
bersama sahabat saya, Yansah, yang dulu pernah singgah satu atap di Semarang
(asrama). Selama dua bulan di sana. Saya mencoba adaptasi dengan kehidupan
warga Jogja, dan pasti, kehidupan baru saya, ngekos.
Iya, baru kali ini saya hidup dalam ruang lingkup kos-kosan. Yang mana
sebelum-sebelumnya, ketika masih menjadi mahasiswa S1, saya habiskan di asrama
dan ngontrak rumah bareng teman-teman. Jadi, ketika dihadapkan pada dunia kos,
yang serba tersekat, jarang bisa berkontak langsung dengan teman yang mempunyai
tipe/karakter yang hampir sama, agak sulit. Butuh adaptasi. Apalagi saya
pendatang baru.
Kehidupan anak kos itu identik dengan menyendiri. Ada yang memang
bersosialisasi dengan teman satu tempat kosnya, tapi tidak seperti apa yang aku
rasakan dulu sewaktu di asrama dan ngontrak bareng teman satu kelas.
Senang-susah, seakan menjadi hal yang ikut dirasakan bersama. Contoh kecil,
makan bareng. Ngliwet bareng. Kalau yang satu lagi bokek, nggak punya uang,
kita yang lagi banyak duit, memberikan hutangan kepada teman yang membutuhkan
itu. Semuanya saling berbagi. Mau kemana-mana, kita bersama, bersatu padu.
Masa-masa seperti itu terkadang menjadi kerinduan bagi saya. Tapi, saya
sendiri juga ingat usia. Sepertinya mulai saat ini, belajar bagaimana nanti
ketika sudah mulai hidup di tengah masyarakat. Hidup berbaur dengan orang-orang
yang mempunyai cara pandang berbeda, karakteristik yang beragam, dan gesekan
yang tak bisa dihindarkan. Tampaknya, hal itu saya memulai dengan kehidupan
yang ada di kos, sebagaimana yang saya rasakan saat ini. Menyendiri. Tidak
seperti dulu lagi, guyub bareng.
Kembali dengan tema kos dan kesederhanaan. Yang kedua, saya nebeng selama
satu bulan, di tempat sahabat karib saya, Rikza Muqtada. Masa satu bulan itu
aku manfaatkan untuk mencari kos yang tepat, nyaman, sesuai dengan kehendak.
Sebagaimana pesan teman saya yang sudah lama bermukim di Jogja, Amiq, dia
mengatakan, “Tad, kalo kamu nyari kos yang hati-hati ya. lihat kondisi
lingkungannya. Pesan teman sewaktu SD itu coba aku praktikan. Baik itu mengenai
masalah kondisi lingkungan, tipikal orang yang menempati kos itu sendiri, dan,
terpenting adalah keamanan. Keamanan di sini menjadi sangat penting, mengingat
saya pernah kehilangan sepeda Lerun-Polygon. Yang pada waktu itu, baru saya
tinggal sekitar sepuluh menit, ketika mau saya pakai, langsung babalas. Hilang.
Namun, Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Digantilah saya dengan sepeda yang
baru. Alhamdulillah.
Singkat cerita, selama saya menempati kos-kosan di dua tempat—Yansah dan
Rikza—saya tengah mendapatkan satu kata dan kesan dari keduanya, yakni;
kesederhanaan. Kesederhanaan di mana kondisi yang pernah saya dinggahi,
ngungsi. Dan kedua tempat itu memberikan kesan tersendiri. Oleh sebab itu,
ketika saya mendapatkan kos baru bersama teman saya di daerah Demangan, betapa
bersyukurnya saya, akhirnya, selama empat bulan (September-Desember) di Jogja
bisa mempunyai kos sendiri, walaupun satu kos tersebut ditempati oleh dua
orang. Akan tetapi, rasanya berbeda manakala kita sudah tidak nebeng lagi.
Mengingat kos yang saya tempati sekarang ini jumlahnya begitu banyak. Hampir 20
lebih kamar yang dipunyai oleh bapak
kos. Maka, di sini saya masih adaptasi. Baik cara kehidupan orang-orang yang
tinggal, dan aturan apa saja yang berlaku di lingkungan kos tersebut.
Kesan dari teman saya ketika pertama kali masuk di kos baru saya, ia
mengatakan, “Ya Allah Tad, kos mu tek koyo mushola ngene” (Ya Allah tad, kos
kamu kok kayak mushola gini toh). Saya pun tertawa terpingkal-pingkal dengan
ceplosan teman saya itu. Ya, saya wajari, karena kebetulan kos teman saya itu
bisa dibilang mewah dan ‘wah’. Dan sangat jauh bila dibanding dengan kos yang
saya tempati saat ini. Perlu diketahui, sudah tiga kali teman yang pernah
memasuki kos yang baru saya huni tiga hari ini. Kesan darinya pun berbeda.
Beragam. Yang jelas, apa itu komentar dari mereka semua, yang penting saya
merasakan nyaman dan bahagia.
Saya itu orangnya nggak neka-neko. Kalau itu tempat masih bisa disinggahi
dan layak, tidak peduli bertembokan kayu atau bagaimana, yang penting bisa
dibuat menempati barang-barang saya yang terbilang cukup buanyak itu. Sudah
cukup. Alhamdulillah. Karenanya, pada kos baru saya ini, saya mendapatkan
betapa pentingnya hidup sederhana yang nggak banyak tuntutan. Sederhana, yang
penting bahagia.
Point itulah yang saya dapatkan, yang hemat saya, hal itu perlu kita
aplikasikan dalam realitas kehidupan kita sekarang. Karena kemewahan bukanlah
jaminan seseorang itu hidup bahagia. Uang yang melimpah pun demikian. Semuanya,
menurut saya, hanya sebatas alat untuk menuntun seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan.
Akan tetapi, sekali lagi, bukan jaminan! Banyak orang yang berlimpah uang,
seperti koruptor, akan tetapi, nyatanya, kehidupan mereka tidak tenang. Seperti
terhantui. Banyak wartawan yang memburunya. Status sosial di masyarakat pun
negatif.
Dan, ketika sang koruptor divonis belasan tahun oleh pengadilan, mereka
seakan tidak terima. Bahkan ada yang pingsan. Tak sadarkan diri. Tak menerima
kenyataan dari apa yang tengah ia hadapi. Dengan demikian, melalui tulisan saya
yang sederhana ini, saya ingin mengatakan bahwa hidup sederhana dan penuh
dengan rasa syukur kepada yang Kuasa, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri
bagi saya. Karena hidup sederhana tidak banyak tuntutan dan menjalani apa yang
sekarang dipunya itu sebuah pemberian yang wajib disyukuri. Semoga kia selalu
bisa menjadi orang yang pandai dalam mensyukuri hidup ini. Apa yang telah
diberikan oleh Tuhan. Karena kalau kita mau bersyukur, pertanda nikmat akan
mengucur. Percayalah. Seperti halnya hujan deras yang jatuh di bumi pada sore ini.
Menimbulkan keberkahan bagi kehidupan.
Demangan-Yogyakarta, 15 Desember 2013. Di dalam kamar kos
baru, sendirian.