Pengantar penulis

Menulis itu berat, biar aku saja yang melakukannya. Kalian tinggal baca aja :)

Tanggal 20 Agustus 2013, adalah hari yang bersejarah di dalam kehidupanku. Pasalnya, pada hari itu merupakan hari di mana penantian panjangku selama ini, yakni  selama mengembara ilmu di kota atlas, Semarang. Bukan karena raihanku dalam mendapatkan titel sarjana. Bukan itu. Akan tetapi, proses yang begitu panjang yang penuh liku.

Untuk menjadi seorang sarjana, sedikit curhat. Di fakultasku–kebetulan saya mengikuti program khusus–yang mana syarat untuk lulus, di samping menyelesaikan tugas akhir (skripsi), juga harus menyetor hafalan al-Qur’an empat juz, dan 100 hadits beserta sanadnya. Busyet, hal ihwal itu lumayan cukup menguras keringat pada waktu itu.

Siang, sore, malam, tak kenal waktu. Yang dibawa adalah hafalan hadits dan baca al-Qur’an untuk mentikrornya (mengulangi hafalan). Saya tidak sendirian. Teman-teman yang satu kos pun juga mengalami hal serupa. Galau bareng, hafalin qur’an-hadits bareng. Emang bener-bener butuh fokus dan konsentrasi penuh guys!

Kenapa demikian? yah.. kalau tidak, nanti bisa patah arang dan males-malesan. Wisuda pun akhirnya tidak sesuai dengan target. Jadi molor deh. Padahal, skripsi memang butuh fokus dan fokus. Pun juga dengan hafalan. Semuanya–kegiatan kampus–baik itu yang ada di PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa), LPM (Lembaga Pres Mahasiswa), harus dikesampingkan terlebih dahulu. Harus ada yang dikalahkan! Kalau tidak, teror oleh orang tua pun siap diterima..hehehe.

Sebenarnya bukan teror sih, namun nggak enak juga kalau jatah lulus selalu kita tunda. Apalagi waktu itu, saya berhasil menyelesaikan kuliah dalam jangka waktu 5 tahun/10 semester (jangan ditiru ya..hehe). Semenjak di tahun ke empat, sebenarnya bokap sama nyokap sudah menanyakan perihal skripsi saya dan hafalannya bagaimana. Karena waktu itu saya masih menjabat sebagai Pimpinan redaksi (pimred) majalah kampus, mereka masih memaklumi.

Akan tetapi,  ketika sudah menginjak di semester 9, kayaknya tanpa ampun lagi orang tua saya ini. Beliau selalu memberikan semangat, baik dukungan moril maupun finansial. Segala kebutuhan untuk skripsi, selalu dipenuhi. “Nang.. barusan bapak kirim uang, itu untuk fotocopy skripsi yaa…” *jederrr. Hatiku terasa mendapat tamparan. Karena memang, saya sudah molor satu semester.hehehe

Menginjak tahun kelima, bokap sama nyokap pun semakin perhatian. Yang pada waktu itu leptop saya sering mati (ngadat tanpa izin), kemudian, disuruhlah untuk beli lagi; hanya demi skripsi broh! Bayangkan, betapa perhatiannya mereka. Saya pun kemudian langsung capcus membeli sebuah notebook ke mall matahari..mhihi

Dari sini, saya kemudian berfikir. “jangan sampai aku menyia-nyiakan perjuangan bapak-ibu selama ini..” Beliau tiap hari bekerja, memeras keringat untuk kita, masak saya yang di perantaun sini mau leha-leha nyantai tanpa dosa. Akhirnya, hati ku tergugah. Dan semangat untuk menyelesaikan tugas akhir semakin membara, cetar membahana!

Dari hari ke hari, tidak terlewatkan untuk mencari data ke perpus. Dari hari ke hari, tidak terlewatkan untuk menghafal al-Qur’an dan hadits. Dari hari ke hari, selalu diisi dengan proses yang begitu keras. Tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Di dalam penyelesaian tugas akhir skripsi tersebut, dikarenakan saya masuk pada program khusus, yang mana diwajibkan memakai bilingual (Arab-Inggris), maka, tiap mahasiswa wajib untuk memilih di antara keduanya. Mau skripsi Arab atau skripsi Inggris.

Sumpah, bener-bener ekstra penuh perjuangan. Dalam ujian munaqosyah pun sama, harus dipilihlah sesuai dengan tulisan karya skripsinya (bahasa Arab/bahasa Inggris). Ketika saya menyelesaikan tugas itu semua, ternyata, waktu berjalan tak terasa. Tiba-tiba, eh busyet, sebentar lagi deadline pengumpulan skripsi, dan pada hari itu, semua persyaratan harus terpenuhi semua. Baik tanda tangan untuk pembimbing, sertifikat hafalan, sertifikat SKK, dan lain-lain.

Akhirnya pun, tibalah di sidang ujian munaqosyah. Singkat cerita, walaupun bahasa Inggris saya masih belepotan, terkadang ngejawab pertanyaan dari dosen saya menggunakan bahasa Indonesia, tidak memakai bahasa planet..hahaha. Diterimalah skripsi saya–dalam catatan–harus revisi!

Saya pun akhirnya bisa bernafas lega dan kabar bahagia itu langsung aku sampaikan kepada kedua orang tua. Betapa senang dan bahagianya mereka berdua ketika mendapatkan kabar; “buk-pak, anakmu ini akhirnya lulus ujian munaqosyah”. Alhamdulillah, ucap syukur bahagia dalam benakku kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Singkat cerita, ditetapkanlah, tanggal wisudaku, yakni pada tanggal 20 Agustus 2013. Di hari ini, sebenarnya saya biasa saja, dalam arti, ketika saya di wisuda, ada suatu hal yang sebenarnya membuatku lebih bisa membahagiakan kedua orang tua ku. Yang pertama, pada hari tersebut, adalah hari dimana Ibu ku dilahirkan di bumi Indonesia ini. Ya, itu tanggal adalah hari ulang tahunnya nyokap. Jadi, wisuda itu sebenarnya hadiah ulang tahun dari saya..hehe

Dan yang kedua, saya tengah mendapatkan sebuah sms, kabar singkat dari teman yang di Jogja, kalau nama saya akhirnya terdaftar (diterima) menjadi mahasiswa pascasarjana di sebuah universitas di Yogyakarta. Air mata saya pun akhirnya meleleh, membasahi pipi. Dia keluar tanpa aku suruh. hiks.hiks. mengharu biru.

The last, pada hari kamis (30/1) kemarin, teman-teman saya tengah di wisuda S1. Saya pun bisa merasakan betapa bahagianya mereka semua. Betapa bahagianya orang tua mereka. Ucapan selamat “semoga mendapatkan keberkahan ilmu” mengalir deras dari sanak saudara. Saya pun ikut merasakan getaran kebahagiaan dari sana, kota Semarang.

Memang benar oleh sebuah ucapan, “sebenarnya, orang tuamu tidak begitu perlu dengan uang hasil jerih payahmu, yang kamu hasilkan dari usahamu, akan tetapi, melihat anaknya sukses, melihat anaknya berkembang melebihi dirinya adalah hal utama yang diinginkan oleh semua orang tua di dunia“.

Orang tua mana yang tidak ingin melihat anak-anaknya bisa tumbuh berkembang melebihi dirinya..


Jogja, 31/01/2014



Leave a Reply