Pengantar penulis

Menulis itu berat, biar aku saja yang melakukannya. Kalian tinggal baca aja :)

Di usianya yang ke 30 tahun, dia masih menutup dirinya dengan sebuah 'kegilaan' dan ketidakwarasan--gila demikian anggapan awam karena sering tertawa dan ngobrol sendiri tanpa sebab.

***
Diberi anak yang taat dan patuh kepada orang tua adalah sebuah anugerah, karena tidak semua orang mendapatkan itu. Namun bila dititipi oleh Allah seorang anak yang diberi 'keistimewaan' dan 'kelebihan', adalah sebuah mukjizat, karena tidak semua orang diberi dan dititipi. Hanya orang terpilih dan pilihan yang mampu menerimanya dengan keikhlasan dan lapang dada.

Allah tidak akan menitipkan seorang anak kepada hambanya bila hamba tersebut tidak akan mampu mengasuhnya. Bersyukur atas anugerah anak yang taat dan patuh adalah lumrah dan hal biasa--karena begitulah seharusnya. Namun bersyukur dan bersabar dengan titipan seorang anak yang 'istimewa' adalah jempol lima.

Tidak banyak orang tua yang memahami karakter anaknya yang 'istimewa' itu. Akhirnya dia divonis dengan caci maki, hinaan, dan bully. Tidak ada kata yang bagus untuknya, selain sumpah serapah dan tidak terima atas apa yang telah dititahkan oleh Tuhan kepadanya.

Memang, maksud hati bukan demikian, karena dalam setiap ibadah, namanya selalu disertakan, agar menjadi orang yang baik, bahkan terbaik di lingkungannya. "waladun sholih".

Dalam hal ini, peran orang tua sangat penting. Kasih sayang, cinta, dan kesabaran. Merawatnya harus dengan maqam cinta, karena maqam syariat hanya bisa menampung benar dan salah. Sementara cinta dan kasih sayang sudah melampui itu. Bukan lagi soal benar-salah, baik-buruk.

Kesalahan yang dilakukan bisa jadi karena ketidaktahuannya. Ketidakmengertiannya (karena diakui atau tidak anak tersebut belum mukallaf--walaupun usianya 30 tahun). Namun kewajiban dan tugas orang tua adalah mengarahkan, bukan memaki atau memvonisnya. Bila ada orang lain menilainya sebagai buruk dan hina, karena memang orang lain belum bisa memahami dan mengetahui dunianya.

Sosok 30 tahun itu, dia tidak pernah 'ngrasani' kejelekan orang lain. Bila dia melakukan kesalahan, karena atas ketidaktahuannya. Kemarin dia sempat bilang kepada saya, bahwa pesan bapak yang masih diingatnya: "ojo nglarani wong, dan dunia itu hanyalah permainan dan arena sendau gurau", dengan fasih dia mengucapkan: "innamal hayatud dunya illa lahwun wa la'ib".

Dengan spontan, dalam kelopaknya, ada linangan air mata. Sebuah ucapan ketulusan, dan saya tidak tahu, siapa yang menggerakkan?

Jogja, 23 Maret 2018.



Satu hal yang menjadi alasan kuat kenapa saya selalu menulis tema pesantren di setiap status saya adalah karena untuk merawat ingatan dan melawan lupa. Di samping itu didasari pesan utama oleh guru saya selepas menjadi alumni (mutakhorijin). Beliau berpesan; "ojo dadi kacang sing lali karo kulite". Jangan sampai kamu menjadi kacang yang lupa kulitnya. Kalau boleh menafsirkan, kurang lebih seperti ini: Kamu, bisa menjadi kamu yang sekarang ini--itu berawal dari sebuah hal-hal yang kecil, hal yang sederhana; yaitu pesantren. Jadi kamu, ketika menjadi kamu yang saat ini, jangan lantas kamu melupakan asalmu, melupakan sejarah hidupmu, kalau dulu kamu kecil pernah bersinggah di sini (di tempat ini).

Pesan itu hampir selalu disampaikan ketika acara Halal Bi Halal, ajang reunian para santri. Jadi, pada momen seperti itu kami saling curhat pada masa-masa dulu ketika di pesantren: ghosob sandal, suka ngebon di warung dan lupa bayar, telat shalat jama'ah, tidur pas musyawarah, lompat pagar demi nonton sepak bola (itu semua perilaku kawan saya, ya, bukan saya. hehe). Kalau saya mah, ngaji kitab paling depan, jama'ah di shaf pertama belakang imam, seusai musyawarah ngaji qur'an di depan kamar ustadz, bukannya sombong sih. Tapi itu karena kena ta'ziran.heuheuheu.--Dan pada waktu itu, Halal bi Halal, kami pun saling membuka ingatan-membuka memori, melawan lupa.

Hal ini mengingatkan saya kepada sebuah buku yang ditulis oleh Djohan Effendi, dalam mengomentari sosok Gus Dur. Bagaimana buku berjudul 'A Renewal Without Breaking Tradition' itu menggambarkan sepak terjang yang dilakoni oleh Gus Dur semasa menjabat sebagai pimpinan NU, sebuah pembaharuan yang dilakukan olehnya yang tanpa mengobrak-abrik tradisi, tanpa melupakan akar sejarah.

Modernisme dan globalisasi seperti saat ini, tidak lantas membuat kita lupa terhadap tradisi-tradisi yang sudah mengakar di masyarakat dan pesantren; seperti Tahlilan, Yasinan, Ngaji Bandongan dan Mauludan. Serta, kajian seperti Halaqah dan Bahtsul Masa'il yang membahas isu-isu terkini dan aktual; seperti pemahaman tentang gender, fikih lintas agama, fikih lingkungan dan anti korupsi, misalnya. Itulah yang kemudian dinamai dengan "al-muhafazatu ala qadimis ash-shalih wal-ahdzu bil jadid al-ashlah" (memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Eits, ini bukan dalil poligami lho ya?

Dus, banyak diantara kita yang sering melupakan sejarah, termasuk juga sejarah terhadap dirinya sendiri. Jangan pernah lupakan itu! termasuk dalam hal ini adalah jangan sampai melupakan mantan-mantan kita beserta kenangan-kenangannya, karena dalam setiap mantan pasti ada pelajaran, ada kenangan di setiap tikungan yang bisa diambil ibroh (hikmah)nya. Sehingga tidak lantas kita tidak mau memaafkan di setiap derai air mata dan luka yang membeku ketika masih bersamanya.

Karena sesungguhnya sulitnya move on itu berawal dari ketika kalian mencoba melupakan kenangan dan sejarah yang pernah kalian rangkai, kalian ukir disaat masih bersama, dan tiba-tiba di tengah jalan di-PHP-in. Memaafkan iya, tetapi kalau lupa: Tidak!

Jogja, 10-11-2015

























TOPENG

Suguhan musik yang dimainkan Iwan Fals semalam, benar-benar menggetarkan jiwa. Stadion Kridosono menggema dengan lagu-lagu kritik sosial. Alunan musiknya sungguh berkelas. Wajar jika fans bang Iwan (Orang Indonesia, Baca: OI) begitu militan, kemana dia manggung, selalu ada. Semalam, saya melihat 2 bus dari rombongan asal Pati, mereka nglurug ke Jogja demi melihat petikan gitar dan siulan harmonika dari bang Iwan. Itu belum termasuk rombongan dari luar kota yang lain.

Saya mendapatkan beberapa catatan menarik ihwal konser tadi malam. Pertama, ketika masuk antrian, saya membayangkan dengan kejadian (tragedi) di Mina bulan lalu, yang menewaskan ratusan orang. Bagaimana suasana yang mengerikan yang dialami oleh para jamaah haji di Mina itu? baru antri tiket saja seperti itu. Oh ya, bagaimana ya kabar terakhir kasus Mina itu? adem ayem kelihatannya.

Kedua, ribuan orang yang memadati stadion. Dari berbagai aliran, golongan dan sekte OI; tumplek blek, mereka rukun, tidak ada tawuran, gesekan sudah biasa karena menikmati lagu yang maha dahsyat. Para jama'ah Slankers dan OI rukun-rukun saja, walaupun mereka sama-sama mempunyai 'nabi' yang berbeda, tetapi mereka disatukan dalam rahim Indonesia. Saya kemudian berfikir, bisakah ormas Islam Indonesia ini berjiwa seperti penonton konser semalam? tidak perlu melakukan pelarangan ibadah dan takut dengan perbedaan, apalagi bawa pentung segala. Tugas kita adalah, bagaimana cara menyadarkan mereka, kalau kita itu orang Indonesia?

Masak sama kumpulan anak muda Rausyan Fikr yang diskusi tentang filsafat, takut sih? Masak berIslam harus kayak kamu semua?--kalau ditilik dari konser semalem--masak berjoged harus disamakan gayanya? Apabila gaya jogedmu tidak seperti ini, maka kamu sesat! sebegitukah? Justru dengan perbedaan seharusnya bisa menjadi kekuatan, seberapa besarkah kita bisa menghargai perbedaan berjoged atau ber-Islam?

Ketiga, adalah belajar dari sosok Bento. Semalem, Iwan Fals membawakan lagu bento. Bento itu orangnya licik. Dia selalu memanfaatkan kepentingan dan kekuasannya untuk menumpuk kekayaan dengan melakukan tipu muslihat. Ngalor-ngidul ngomongin soal moral dan keadilan, tetapi hanya dijadikan alat politik dan pembenar demi menggilas musuh-musuh politiknya. "Saya baru nyadar, kalau para koorporasi dan pembakar hutan itu orang-orang bento". Cetus Iwan Fals. Sebagaimana yang kita tahu bersama, kasus Asap, sampai saat ini belum juga usai.

Jangan dikira, yang terlihat di layar kaca sebagai sosok yang ksatria, baik, jujur, adil, tetapi dibelakang layar ternyata sebagai dalang kerusakan lingkungan, Siapa duga? banyak mereka melalui iklan di tivi-tivi, mengkampanyekan soal lingkungan, tetapi siapa sangka mereka adalah dalang dari semua itu? pembakaran hutan!

Dan atau, di mana-mana dia menggunakan topeng 'ke-KIAI-an, ke-Ustadz-an, dan ke-Ulama'an-nya. Tetapi, siapa yang bisa menyangka kalau kerusuhan, pertikaian antara saudara, dan peristiwa amuk massa itu justru dia sendiri skenarionya?

Jogja, 25-10-2015




Kurang lebih ada tiga alasan seseorang mau nyantri, hidup di pesantren. Pertama, bisa jadi di rumah dia nakal, terus oleh orang tuanya ditaruh di pesantren. Agar kelak menjadi anak yang baik. Kedua, karena dia memang benar-benar ingin mendalami ilmu agama secara lebih--ya, mungkin dia anaknya kiai/tokoh masyarakat di desanya--sehingga diharapkan nanti bisa menjadi penerus sang ayah. Ketiga, bisa jadi dia ikut-ikutan, entah karena ada tetangganya yang mondok, atau kakak/saudara sepupunya yang sudah duluan bertempat tinggal di pesantren. Namun yang jelas, tujuan dari ketiga alasan tersebut mempunyai muara yang sama; mencari ilmu.

Dulu, oleh guru saya di sekolah, beliau berpesan; seingat saya sih kalau tidak salah pas ngaji kitab Ta'limul Muta'allim. Jadi pesan beliau begini: "anak-anakku kabeh, nalikane sira lungo belajar, luru ilmu, ojo lali niat ditoto, sing pertama yaiku, supaya entuk ridhone Gusti Allah, sing kaping loro yaiku niat ngurip-ngurip agama Islam, terus sing kaping telune diniati ngilangake kebodohan." Hal-hal yang seperti ini, di sekolah madrasah manapun, saya kira semua menerapkannya. Saya tidak tahu bagaimana di sekolah-sekolah umum, seperti SMP.SMA, dll.

Sebelum dan sesudah belajar pun ada ritual do'anya. "Ya Fattahhu Yaa 'Alim-Iftah Lanaa Baaba Fadhlikal 'Adzim." (doa pembuka). "Subhanarabbika Rabbil 'Izzati" (do'a penutup). Dan hal-hal seperti ini hampir tidak pernah saya temukan sewaktu di bangku kuliah. Terkadang, pas pertama kali masuk di dunia kampus, saya merindukan hal-hal yang begitu; doa. Kelihatannya sih sederhana, sepele, tapi penting.

Di kalangan pesantren, do'a memang menjadi andalan, senjata utama. Tidak hanya seusai mengerjakan shalat an sich, tetapi di dalam segala hal. Mulai bangun tidur, sampai tidur lagi, diajarkan do'a. Dalam analisis Toshihiko Izutshu--seorang orientalis asal Jepang--itulah yang dinamakan relasi Tuhan dan manusia dalam bentuk komunikasi verbal. Yakni dari manusia ke tuhan. Lebih lanjut bisa baca bukunya; God And Man In The Koran.

Dari do'a ini kemudian memunculkan hal-hal yang irasional. Contohnya, sewaktu saya nyantren dulu, para santri sebelum ujian (terutama pas UAN), biasanya manakiban dulu, ziarah, minta do'a ke para kiai/sesepuh nanti dikasih air, lalu suruh minum, dan, terpenting adalah, dulu istilahnya "ngisiake polpen/pencil". Jadi, polpen/pencilnya dikumpulin jadi satu, terus diisikan ke kiai yang ampuh. Walaupun memang terkadang menjadi sindiran oleh sebagian teman-teman saya, "terus polpene iso mbunderi dewe ngono?". hehehe. jaman semono, Bahkan, yang lebih mistis lagi adalah di ruangan ujian itu disebar tanah dari kuburan, sambil diwirid, supaya bapak penjaga ujian ngantuk. Hayo, kae kelakoane sopo ngono iku?heuheuheu

Do'a, mantra, wirid, ataupun lainnya yang berupa pengharapan dari hamba ke Tuhan merupakan sugesti. Anda yang tidak bertuhan sekalipun (katakanlah atheis), pada hakikatnya akan mengakui keberadaan-Nya, mengakui ada kekuatan besar diluar diri kita, dengan fakta bahwa selalu ada pengharapan-pengharapan, selalu ada do'a-do'a di dalam hati kecil kita. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Bahkan, Tuhan sendiri pun berdo'a kepada hambanya, yakni dengan bersholawat kepada Nabi Saw.

Walaupun demikian, tidak semua do'a, harapan, keinginan yang kita minta selalu diijabahi dan dikabulkan oleh-Nya. Karena itu, tidak semua do'a itu baik untuk kita, dan tidak semua permintaan itu menjadikan diri kita lebih baik (seperti gambaran di film drama religi yang diperankan oleh Aming; "Do'a yang Mengancam").

Bukankah telah banyak diantara kita yang tidak meminta tetapi diberi, dan yang terus-terusan meminta tidak kunjung ditepati? tanya kenapa?
Jogja, 6-11-2015




Banyak cerita-cerita hikmah dan keteladanan yang saya dapat sewaktu mondok di pesantren. Cerita tersebut pun relevan jika kita bicarakan ulang, serta kita petik hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Salah satu yang paling saya ingat adalah bagaimana komentar KH. M. Arwani Amin-Kudus (Mbah Arwani) ketika kecopetan. Pada waktu itu beliau sedang bepergian bersama santrinya.

Seketika itu, si santri tidak terima atas perlakuan si pencopet kepada gurunya, kemudian hendak mengejar si pencopet tadi. Tapi, apa komentar beliau kepada santri yang menemaninya itu? "gak usah, sing penting sing nyopet ora awakmu". (Tidak usah, yang penting yang nyopet bukan kamu).

***
Komentar seperti yang diucapkan Mbah Arwani kepada santrinya pernah saya dapatkan dari ayah saya ketika ada barang saya yang hilang--sewaktu awal-awal tinggal di Jogja. Adalah suatu hal yang tidak terduga ketika mendapatkan komentar seperti itu. Karena saya sudah berfikiran bermacam-macam, khawatir kena marah, was-was, dan galau.

Namun, suatu hal yang tidak terduga sebuah ungkapan yang bisa membuat hati ini terasa meleleh. Mendapatkan tetesan kehidupan di tengah terik panas kegundahan.

Ayah saya, tanpa menyalahkan saya yang teledor, tetapi disuruh sabar dan lebih berhati-hati (lagi). Ada semacam hal yang sebenarnya lebih penting untuk dijaga daripada sekedar benda materi. Ngati-ngati awak e dewe.

Tapi, apa mungkin, umpamanya begini, saya coba bertanya, misalkan Anda yang kehilangan suatu barang (bukan jatuh atau ketlingsut, tapi memang diambil orang), lalu apa yang kalian lakukan? berdoa agar barang itu dikembalikan? berdoa sembari memberikan sumpah tujuh turunan kepada orang yang ngambil agar celaka? atau biasa saja, pasrah, dengan nada datar berdoa; "ilang yowes, mengko lak ana gantine sing luweh apik". Hilang ya biarin, nanti ada gantinya yang lebih bagus.

Dari ketiga itu, kira-kira dimana kebanyakan orang itu berada? sepertinya kita lebih suka yang kedua, berdoa supaya pengambil atau pencuri itu celaka, ditimpa sial, dan mendapatkan balasan setimpal. Nanti dulu, sebelum mendoakan sial kepada si pencuri itu, apakah kita pernah berpikir; kenapa barang kita diambil, kok bukan yang lain? ada apa dengan diri kita dan harta kita, tiba-tiba ada yang hilang? Tentu, pencuri tidak akan mencuri jika tidak ada yang mengendalikan dan menghendaki. Pelaku teror pun sama, tidak akan terjadi jika tidak ada yang nyetting dan yang menghendaki. Dan semua itu sudah ada garisnya.

Kembali ke komentar Mbah Arwani; 'wis jarke, sing penting ora awakmu sing maling'. Misalnya kalau diteruskan dalam konteks saat ini, tentu banyak sekali kata-kata 'sing penting'. Sing penting ora awakmu sing nyesat-nyesatke. Sing penting ora awakmu sing ngafir-ngafirke, sing penting ora awakmu sing nyinyiri lan maido kancane. sing penting ora awakmu sing gawe padu, ngrusuhi tanggane. Sing penting ora awakmu sing nlikung kancane dewe, dan silahkan diteruskan sendiri.

Dari sekian "sing penting" itu, saya mendapatkan kesimpulan dan tentunya mengambil ibrah dari kisah mbah Arwani, karena ternyata, selama ini kita lebih sering dan suka keliling melihat orang lain, tetapi lupa menziarahi diri kita sendiri.

Jogja, 19-11-2015




















Saya tidak tahu, apakah orang-orang posmo masih yakin terhadap apa yang dinamakan dengan barokah atau tabarukan (ngalap berkah). Sedangkan, setahu saya, santri dari jaman mbah-mbah dulu, hingga sekarang, keyakinannya terhadap barokah itu sangat kuat sekali. Hal-hal yang berbau “barokah” ini yang terkadang seringkali tidak masuk akal. Entah kamu percaya atau tidak dengan apa yang dinamakan barokah itu.

Dulu, sewaktu di pesantren, saya pernah mendengarkan cerita dari teman, dan teman itu mendapatkan cerita—yang konon masih muttasil riwayatnya hingga sampai penyampai pertama.

Ceritanya adalah tentang sosok Simbah KH. M Arwani Amin Said-Kudus, yang pernah nyantri di KH. Muhammad Manshur Popongan-Solo. Jadi ceritanya kira-kira begini seingat saya—bila ada salah cerita, tolong dikoreksi (bagi yang lebih tahu).

Jadi ada tiga santri yang pada waktu itu disuruh/didawuhi oleh Mbah Yai Manshur. “Gus, le, atau cung. Iku tulung pecerene dikuras cah, wong wes kebek.”ujar Mbah Manshur kepada ketiga santrinya itu, yang salah satunya adalah Mbah Arwani.

Nah, jawaban santri pertama, manggut-manggut, tetapi bilang sama Mbah Yai Manshur, “Gih mbah, kulo tak salin rumiyen, dahar-dahar rumiyen supados kiat”. Sementara yang satunya lagi, juga manggut-manggut, “Gih Yai, kulo ganti pakaian rumiyen nggih, niki pakaian taseh resik, suci.”ujarnya. Namun, Mbah Yai Arwani, tanpa basa-basi, langsung saja nyemplung, nguras peceren tersebut, dengan pakaian apa adanya, seketika itu juga.

Singkat cerita, apa yang dilakukan oleh Mbah Arwani ini lebih disukai oleh beliau, KH. Muhammad Manshur-Popongan. Dan dalam jangka waktu yang singkat, Mbah Arwani dinyatakan lulus, dan diperbolehkan untuk melakukan amalan untuk menjalani Tarekat Naqsyabandiyah, sebagaimana yang menjadi laku suluk Mbah Manshur tersebut. Bahkan konon, salah satu karomah dan kealiman mbah Arwani ini karena mendapatkan barokahnya Mbah Manshur, sewaktu masih nyantri.

Cerita-cerita yang seperti ini di pesantren sangat banyak sekali. Ini contoh kecil yang saya masih mengingatnya.

Dulu, sewaktu awal-awal mondok, yang namanya maknani kitab gundul adalah perjuangan yang sangat berat, apalagi sampai memahami apa isi kitab yang tak berharokat itu. Guru saya pun, tiap kali membabarkan kitab, selalu bilang kepada para santrinya. Terutama santri-santri baru. “wes cah, kitabe angger disemak wae yo opo sing tak woco, gak paham yo lah, gak popo. Sing penting dirungoake, diniati tabarukan karo poro ulama’, sopo ngerti suk-suk awakmu kui paham-paham dewe”. Begitu kurang lebih.

Hal-hal yang seperti inilah yang menarik bagi saya di dunia pesantren. Poin pentingnya adalah; piye carane awakmu kui gelem ngaji. Gimana caranya kamu itu mau belajar. Dan belajar itu butuh proses, tidak kok langsung kamu menjadi pintar, ngalim. Dan barokah itu letaknya di situ.

Ihwal itu berbeda jauh dengan pola pendidikan di zaman posmo seperti saat ini. Era digital menuntut seseorang untuk; sering bertanya apa yang tidak diketahuinya itu lewat Simbah Kiai Google. Lebih instan dan cepat, tinggal klik. Tanpa ada guru, pembimbing yang mengarahkannya. Jadi jangan kaget kalau dewasa ini kemudian muncul orang Islam yang akun-akunan. Seakan-akan dia paham soal agama. Padahal, untuk bisa maknani kitab, bisa ngasih harokat utawi iku-iku, butuh waktu yang panjang dan berdarah-darah, siang malam.

Dan sekarang tinggal memilih. Belajar kepada 'guru' yang instan kemudian tahu dalil-dalil a-z (baik al-qur’an hadis), tanpa tahu mengapa kok bisa begitu, permasalahan dan konteks apa yang sedang dibicarakan? apa latarbelakang dalil itu bisa muncul? atau belajar melalui para guru, melalui para murabbi yang siap membimbing tiada kenal waktu? Dari situlah kualitas seseorang ditentukan.

Batu Raden-Purwokerto, 31-10-2015







Wes piye-piye lah.. seng jenenge wong tuo kui gak bakalan dongakke e elek marang anak e nang..”tutur Ibu kepada saya. Waktu itu, ibu sedang berbicara hangat kepada saya di ruang tamu perihal menyorot perilaku kakak saya yang akhir-akhir ini berubah drastis. Di mana seringkali dia pulang larut malam tanpa izin. Dan tak jarang pula meminta uang seenaknya, dengan cara paksa, kepada Ibu.


Buu.. aku wek i duit, nek ora mok wek i sakmene, aku minggat soko omah..”gertak kakak saya ketika meminta uang kepada ibu. Hal ihwal itulah awal cerita oleh ibu kepada saya. Heningnya suasana ruang tamu menjadikan segala uneg-uneg ibu tumpah ruah. Berbicara dari hati ke hati, mencurhatkan apapun yang tengah dialaminya, tak terasa butiran air mata membasahi pipi Ibu. Aku pun ikut larut iba merasakan apa yang dirasakan oleh Ibu.


Tiap kali saya pulang ke rumah, Ibu selalu menceritakan perkembangan kakak saya. Saya merupakan anak rantau, yang sedang menimba ilmu di luar kota. Dan jarang sekali pulang ke rumah. Satu tahun, bisa dihitung dengan jari kapan saya menginjak lantai rumah.


Bagaimana tanggapan ayah..”tanyaku kepada ibu. Bapakmu yo podo wae wis nyubo ngandani mas mu bolak-balik, terkadang malah do tukaran dewe-dewe. Seng mas mu kandanane angel, lha seng bapak watekke keras. Malah ora kedaden. Kui lah sing ndadikke aku ora tegel. Omah kok isine wong do ngamuk..”cerita singkat dari ibu.


Curhat ibu perihal kakak saya itu sudah menjadi hal yang lumrah. Ketika saya sedang silaturrahim ke tempat Bu Dhe (kakak kandung bapak), selalu saja yang ditanyakan adalah kabar kakak ku. “Tad, kepiye kabare mas mu, wes apik urung..”tanya Bu Dhe Zulfah. Hal ini menjadi mafhum di keluarga saya mengenai sifat dan perilaku dari kakak yang memang terbilang nakal.


Para tetangga di sekitar rumah, pun sudah sangat kenal bagaimana karakter dan perilaku kakak saya itu. Apapun yang digunjingkan oleh tetangga, ibu tak menghiraukannnya. Seusai sholat, gunjingan para tetangga di tumpahkan semua kepada Tuhan. Ibu selalu memanjatkan do’a untuk anak-anaknya. Lebih khususnya untuk kakak saya.


Ibu pernah mengatakan kepada saya, “anak iku titipane Pengeran, wes piye-piyelah seng jenenge titipan iku kudu dirawat seng apik, sak mampune. Nek wes diroso gak mampu, seng iso dijaluk marang Pengeran yoiku supoyo ben diparingi apik sekabehane. Seng penting, tugas pentingku neng ndonyo iki, piye carane nyelametke anak, nalikane nyowo dicabut, kanthi nggowo iman.”


Begitulah rasa sayang oleh seorang ibu kepada anak. Yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apapun itu, kalau untuk anaknya, selalu di do’akan yang terbaik. Karena orang tua pasti bangga ketika melihat anak-anaknya tumbuh berkembang melebihi dirinya. Harapan seperti itu pasti dirasakan oleh semua orang.


Bahkan, saking nakalnya kakak saya itu, terbesit dibenak ayah dan ibu untuk menaruhnya di pesantren supaya ada perubahan dari perilaku yang dilakukan selama ini. Akan tetapi, permasalahannya, kakak saya mengelak untuk dipesantrenkan. Saya pun turut mendo’akan kakak saya itu. Semoga diberi hidayah agar ia menjadi anak yang sholeh serta taat kepada kedua orang tua.


Singkat cerita, setelah hampir satu minggu di rumah, aku pun kembali ke perantauan lagi. Lebih tepatnya di kota Yogyakarta. Tak terasa, curhat yang sudah ditumpahkan oleh ibu pada dua bulan yang lalu itu masih terngiang dibenakku. Sampai sekarang, ketika tulisan ini dibuat. Dan seperti biasa, tiap minggu ibu menanyakan kabar ku, dan aku pun menanyakan kabar kakakku. Dari waktu ke waktu, tampakya ada rona bahagia di mata ibu. Do’anya yang selama ini dipanjatkan, sudah mulai dijawab oleh Tuhan. Ces pleng.


Karena kakak saya yang terbilang nakal itu, sudah mulai menjauhi dunia hitamnya. Bahkan, sekarang sudah sering shalat berjama’ah di masjid. Mengumandangkan adzan dan menjadi imam shalat. “Alhamdulillah nang, mas mu saiki wis apik, wes sregep shalat jama’ah neng masjid, terkadang malah dadi imam. Haiyo, olehe aku dongakke mas mu, anak-anakku kabeh iki wes pol-polan. Wis piye meneh, usaha dhohir wis tak lakoni, saiki ganti usaha bathin. ojo lali, didongakke terus yo.. dungo dinungo”.


Bagaimanapun juga, jasa orang tua tidaklah bisa dibeli dengan apapun. Semangat dan perjuangan mereka selama ini yang selalu memberikan support kepada kita, mendampingi kita dalam mengaruhi kehidupan yang keras ini, tak kenal kata lelah dan putus asa. Apalagi sebuah do’a. Pasti selalu dipanjatkan olehnya.


Dari sini saya tengah mendapatkan pelajaran. Memang, aku tidak akan bisa membalas jasa kedua orang tuaku. Walaupun demikian, aku masih ingat dengan apa yang disabdakan oleh Nabi Saw. Yang mana ada tiga amal yang tidak akan terputus di dunia ini, salah satunya, anak shaleh yang selalu  mendo’akan kedua orang tuanya.


Tinggal diperantauan. Ibu seringkali mengirim pesan singkat guna tanya kabar dan sekaligus panjat do’a. Sampai sekarang, pesan singkat (SMS) yang ibu kirimkan masih aku simpan dengan rapi di dalam folder HP. Tak lain bertujuan untuk mengingatkan ku apa tujuan merantau, jauh-jauh keluar dari rumah.


Usaha yang bisa aku lakukan sekarang adalah; belajar, meraih prestasi dan cita-cita untuk bisa membahagiakan kedua orang tua. Karena menurutku, usaha itulah yang bisa aku raih untuk mendapatkan predikat birrulwalidain, yang mana mencoba menebus perjuangan orang tua ku selama ini. Karena saya yakin, orang tua tidaklah butuh uang yang berlimpah ruah dari anaknya. Akan tetapi, jauh yang diinginkan adalah bagaimana anaknya bisa sukses, bisa bermanfaat untuk banyak orang, dan mampu mengharumkan namanya.


Dan, pesan teguh yang seringkali terucap dari bapak maupun ibu adalah, “wis, bapak-ibu iki ora ninggali koe donyo, tetapi ninggali koe ngelmu. Mung iki seng tak tinggali marang koe kabeh. Mergo dunyo ora bakal digowo mati. Dadio wong seng ngalim, lan biso nyiarake agomo Islam..”


Kesuksesan, baik dalam pendidikan dan karir yang saya rasakan saat ini, memang tidak bisa lepas dari kekuatan magic do’a yang selalu dipanjatkan oleh kedua orang tua kepada Yang Maha Kuasa. Karenanya, jangan sampai kita menyia-nyiakan mereka berdua, apalagi sampai durhaka.. wal’iyadzubillah.


14 Maret 2014 15:20




Setelah masak bakso dan oseng-oseng daging cincang seharian; saya capek, tidur pulas. Hampir lupa, meneruskan cerita di pesantren kemarin, karena masih ada sambungannya.

Dunia pesantren, selain mengajarkan ilmu, juga mengenalkan pada: "mangan enak, turu kepenak". Gimana coba kalau enggak makan enak? apapun jajanan yang ada--baik dari sambangan orang tua santri atau ketika santri habis balik dari rumah--pasti dilahap habis. Lha wong air kulah (baca: jeding) aja di minum, apalagi jajanan. Hehehe. Tapi faktanya alhamdulillah ya sehat-sehat saja, minum air mentah. Sampai sekarang pun teman-teman saya banyak yang hidup. Itu dulu minumnya air mentah loh. Jangan sangka. hehe

Nah, di pesantren ada sebuah qa'idah yang menarik: "Man Ja'a Bila IN Fahuwa Mardudun". Utawi kang aran makna 'IN' tegese inggih punika 'inuk-inuk'. Sebagian matan lain mengatakan "Man Ja'a Bila Jajanin Fahuwa Raddun". Kaidah itu pasti berlaku di seluruh pondok pesantren manapun. Barang siapa yang habis pulang dari rumah, kalau tidak bawa jajan, maka, chek out-lah dari pondok!

Kaidah ini sangat keras sekali diterapakan. Tapi ya nggak keras-keras amat sih.hehe. Biasanya ini berlaku pada santri baru, yang santri senior, kadang nggak bawa, gengsi. Tapi hal itu tidak berlaku pada saya. Alhamdulillah, ketika habis pulang dari rumah, saya usahain bawa itu jajan. Walaupun roti gudal (baca: biskuit roma), itu selemah-lemahnya iman.

Ada cerita menarik ihwal jajan ini. Di kamar saya, ketika ada santri yang disambangi, ayah-ibu-neneknya, atau saudara yang lain, tidak jarang ikut masuk kamar. Nah, dikeluarkanlah jajanan itu. "Monggo kang, disambi."tawar wali santri. (hampir seluruh pandangan mata santri tertuju pada tas kresek, dan memang, rata-rata rasa jaimnya kumat kalau masih ada wali santri). "Monggo kang,"ujar wali santri lagi. Masih aja santri pada manggut-manggut, malu-malu kucing.(Kalian tahu sendirilah body language santri kayak gimana).

Nah, setelah wali santri dan saudaranya keluar dari kamar--tiga langkah dari daun pintu kamar--kemudian, terjadilah tragedi besar. "Gruduk-gruduk-gruduk". Tangan saling rebutan. Yang asalnya makanan itu utuh berbentuk makanan, kemudian berhamburan, tercecer di lantai. Hahaha. Asem, jadi kelingan zaman semono.

Cerita soal makanan yang lain, apabila ada salah satu santri yang menyimpan jajanan itu berhari-hari di lemari, bisa dipastikan, dia akan dikucilkan oleh kawan-kawannya. Bahkan, kalau ada santri yang agak ndableg, pasti lemarinya dijebol. Hahaha. Ya, kehidupan pesantren memang indah yang disininya.

***

Di pondok saya, Ma'had al-Ulum asy-Syar'iyyah Yanbu'ul Qur'an, sudah menjadi langganan dimintai tolong oleh warga masyarakat ngadla'i shalat--apabila ada saudaranya yang meninggal dunia, tetapi mempunyai qadla'an shalat menahun. Sehingga, bapak, KH. M. Arifin Fanani, melalui para santri, sehabis shalat fardlu, kemudian shalat lagi, diniatkan ngadla'i sholat yang ditinggalkan almarhum selama hidup. Biasanya karena sakit, bukan karena memang mbangkang tidak mau shalat.

Maka, keluarga yang paham tentang masalah ibadah, pasti sadar diri. Walaupun sebagian ulama' fikih ada yang tidak mewajibkan. Tapi, alasan kiai saya; "Apakah tega membiarkan saudaranya yang punya hutang soal sholat?". Ya, guru saya ini memang dikenal sebagai ulama' yang mempunyai sifat hati-hati masalah ibadah. Beliau merujuk Mbah Turaichan Adjhuri. Seperti ayah saya, mengidolakan Mbah Tur. Apabila 'A' ya bilang 'A'. Bukan keras, tapi keukeh dalam pendiriannya. Soal hukum, bilang haram, ya haram.

Kembali ke cerita qodlo'an tadi. Nah, ketika ngadla'i shalat itu rampung--terkadang seminggu atau lebih--tergantung dari jumlah bilangan shalat yang ditinggalkan; selama setahun, dua tahun, atau tiga tahun? dan sudah menjadi tradisi Jawa, kalau ada orang yang sudah minta tolong, masak tidak balas budi? Biasanya, para santri ini mendapatkan jajan berupa sate dan es susu buah dari masyarakat yang sudah dibantu tadi. Inilah momentum yang ditunggu-tunggu. Terutama bagi dia yang tidak pernah makan sate.hehehe. Waduh, tamak nih.. smile emotikon

Begitu juga ketika dia tidur. Tidurnya santri siapa bilang tidak kepenak (nyenyak). Walaupun beralaskan lantai. walaupun berbantalkan tangan. Walaupun sambil maknani kitab. Walaupun sambil menunggu antrian di kamar mandi. Walaupun ketika musyawarah sambil tekluk-tekluk; tetaplah nikmat. Karena kecapean, seharian mengikuti kegiatan pondok, itu belum lagi yang di sekolah.

Dulu ketika saya jadi pengurus, kebetulan dapat jatah ngebangunin santri di waktu subuh. Masih aja terdapat santri yang ndagel. Ketika dibangunin, dia ambil sarung, bukan langsung ke kamar mandi, tapi sembari kukur-kukur dulu (yang merasa santri, pasti nyengir-nyengir). Setelah saya atau pengurus lainnya keluar dari kamar, kemudian dia tidur lagi. Ada juga yang sudah bangun, gayanya sih ke kamar mandi. tetapi kenyataannya tidak, dia pindah tidur, di ruang dapur, nyenyak di atas beras.

Kalau sudah begitu, jatah saya untuk nyateti (mencatat). Karena setiap tidak mengikuti shalat jama'ah atau telat jama'ah, sekali, kena denda seribu. Wah, tidak terasa sudah maghrib. Jama'ah dulu. Qomat-qomat. Awas ada keamanan berkeliaran!


Jogja, 27-10-2015



Tidak seperti biasanya, pagi-pagi saya sudah masak--krispy terong sama tempe goreng, dan aneka lauk yang lain. Setelah matang, makan bareng sama santri kalong gusdurian. Di halaman belakang, kita bercerita tentang pengalaman dulu ketika di pesantren. Mulai dari kisah cinta, ta'ziran, ro'an (kerja bakti), hingga pengalaman nglanggar aturan pondok. Semua geyeng, ger-geran.

Memang, pesantren telah menyimpan sejuta memori dan kenangan, suka duka ada di dalamnya. Bagaimana dulu pengalaman sewaktu menjadi santri anyar, hingga pasca lulus dari penjara suci itu. Walaupun sebagian orang tidak setuju bahwa pesantren/pondok dikatakan sebagai penjara suci. Akan tetapi, kenyataannnya demikian.

Di dalamnya, kita dikasih aturan yang tetek bengek, nggak boleh ini-itu, apabila melanggar, kena ta'ziran (hukuman). Di halaman belakang itu, ada yang mengisahkan, bagaimana ia dulu di kenal santriwati--menjadi orang terkenal karena sering nglanggar aturan pondok. Tidak ikut ngaji. Sehingga setiap pagi, subuh tiba, dia ngaji (tadarus qur'an) di samping pondok putri, sambil berdiri.

Ada juga kisah--yang di atas loteng, dia mencuri-curi waktu, agar bisa udud (ngrokok). Karena loteng pondok selain sebagai gudang--banyak barang-barang bekas tak terpakai--juga tempat paling nyaman dan aman buat ngrokok. Ya, di pondok, kalau belum dapat SIM (Surat Ijin Merokok), haram hukumnya menjadi ahlul hisab (sebutan bagi para smokers). Dan masih banyak lagi aneka cara dan jenis kisah ndablegnya anak pesantren.

Dan, cerita lucu itu adalah ketika ada santri dari Jawa Barat, yang belum kenal sama sekali dengan logat Jawa, karena dia santri baru, akhirnya dikibulin aja sama santri senior. "Kang, bahasa Jawanya makan apa?tanya santri baru. "Ngising kang. Jawab santri senior. terus, Kalau bahasa Jawanya Berak apa kang?" Mangan atau madang, kang"jawab senior.

Nah, pagi-pagi, sehabis ngaji subuh. Dia bawa piring, sambil ngajak teman-teman sekamar. Ayo ngising-ayo ngising."pekik santri baru itu. Loh, ngising kok pakek piring? Mau diwadahi po eeknya?"sahut teman samping nya. Bukannya bahasa Jawanya makan itu ngising ya kang?"jawab santri baru itu, polos. Lantas ia diketawain. hahaha, dan ia baru sadar kalau dikibulin.

Ada juga cerita lucu soal santri baru juga. Sudah menjadi tradisi, kalau santri baru biasanya dikasih ospek dikit-dikit, sebagai wujud keakraban bersama. Di suatu malam, menjelang tidur, santri baru dikerjain. "Eh kang, sampeyan mau tidak lihat tuyul."tanya santri senior. Karena konon, orang-orang pesantren itu sebagian ahli kasyf (punya indra keenam). Wajar, jikalau dia pulang ke kampung halaman, sering dimintai do'a, jipa-jipu.

"Mau kang, mau, gimana caranya."jawab santri baru itu. "Kamu beli dulu lilin di koperasi, terus nanti dihidupin". Nah, setelah beli dan lilin itu dinyalakan, lampu kamar dimatikan, kemudian, dibukalah sarung si santri baru itu. Apa yang terjadi?hahaha. Itu kang, tuyul-nya kelihatan, gede banget.."teriak santri senior yang kurang ajar itu. Hahaha.

Dan cerita lucu lagi adalah, di pesantren manapun anda berada, pasti Anda atau teman anda mendapatkan laqob (julukan). Kalau tidak daerah asal kamu tinggal, ya, hal-hal yang unik di dalam dirimu, seperti teman saya dulu ada yang dipanggil Krandon, Gembong, Mblobok, dan lain-lain, karena ia berasal dari desa tersebut. Ada juga laqob yang paling parah adalah ketika dipanggil nama orang tua, bapaknya. Yang pernah mondok pasti nyengir-nyengir sendiri bacanya. Nah, ada teman saya yang dulu kena punishment karena tertangkap mbribik santriwati, kemudian dia digundul, lalu dipanggilah dia "cimol". Sampai sekarang. Waktu itu marak jajanan cimol; cilik molor.

Dan, ada juga yang bisulen/gudiken di pipi berkali-kali, lalu dia dipanggil apa coba? "Silikon" bro! hahaha.

Sampai di sini dulu, nanti ceritanya dilanjut lagi. Jangan lupa jama'ah, terus sekolah diniyyah ya.


Jogja, 26-10-2015



Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang pemimpin. Menjabat atau didaulat menjadi seorang pemimpin atau pimpinan bukanlah hal yang baru di kehidupan saya. Dan praktiknya pun tidaklah mudah, banyak tantangan yang musti dihadapi. Seperti yang pernah saya alami. Dulu, saya pernah menjadi pimpinan di beberapa media kampus. Yah, jelek-jelek gini alhamdulillah pernah menjadi pemimpin redaksi di LPM IDEA Fak. Ushuluddin IAIN Walisongo (yang sekarang jadi UIN) dan di Buletin Syamela, salah satu buletin berbahasa Arab yang paling produktif kala itu. Ciyee.

Tidak hanya itu, saya juga pernah memimpin dalam ajang kompetisi madings antar angkatan di FUPK (yang tidak tahu FUPK, tanya mbah google ya..hehe). Walaupun dalam kompetisi itu saya dan teman-teman seangkatan meraih silver winner, alias juara dua. Singkatnya, apa yang saya dapatkan disaat memimpin banyak media tersebut? Ya, pelajaran hidup. Terutama bagaimana cara survive disaat banyak tekanan dan pertanyaan; kapan terbit?. Mungkin, suatu saat nanti aku ditakdirkan oleh Tuhan menjadi CEO Founder di autadfoundation kali ya..hehehe. Amien. Ngayal aja ah, kan ya gak bayar..heuheuheu

Ada banyak tipikal pemimpin. Saya sendiri ketika pertama didapuk menjadi pemimpin redaksi di LPM IDEA, saya masih awam, bagaimana kinerja yang harus saya perbuat dan gerakan apa yang bisa membuat LPM ini tetap hidup dan produktif dengan banyak karya dan kerja nyata. Karena LPM ini mewadahi seluruh keluhan yang dialami oleh mahasiswa, baik beasiswa macet, sengkarut politik kampus, pembagian dan pencairan dana di UKM yang bermasalah, dan lain-lain.

Tentu berbeda ceritanya ketika saya menjadi pemimpin di Newsletter-nya UKMI Nafilah (pada Buletin Syamila). Isu-isu yang diangkat atau disorot adalah tema-tema global, tidak hanya ruang lingkup kampus an sich, akan tetapi apa yang menjadi isu hangat atau kekinian. Misalnya; tentang kekerasan atas nama agama, perkembangan sastra Arab, gerakan pemikiran mahasiswa; antara yang liberalis, fundamentalis, dan lain-lain.

Dari kedua media itu ada banyak persamaan dan perbedaan. Adapun persamaan yang paling menonjol adalah; sama-sama tidak dibaca..heuheuheu. Gimana coba? Yang rapat redaksi adalah tim redaktur sendiri, yang cetak sama yang bedah majalah/buletin pun orangnya itu-itu juga. Paling, mahasiswa yang dapat majalah/buletin hanya dilihat gambar-gambarnya doank, habis itu jadi bungkus kacang..hahaha. Tetapi, prosesnya bro, bikin setengah stres, bahkan predikat mahasiswa tua siap disandang. Kayak saya dulu, alhamdulillah lulus semester 10..hehehe hastag #BANGGA :D

Setelah saya pelajari, sampai saat ini, saya itu termasuk pemimpin (leader) tetapi belum tentu manager. Saya bisa mengatur dan memproduksi ide, bahkan menggerakkan massa, tetapi belum tentu saya bisa mengelola dan mengontrol massa dengan baik. Kalau di dunia bisnis, kata mbak Alissa Wahid, putrinya Gus Dur, saya ini tipikal pemimpin yang cocok menjadi seorang pebisnis (bisnismen). Beda loh ya antara pebisnis dengan pengusaha (entrepreneur). Kalau pebisnis itu orang yang pintar membaca peluang sedangkan pengusaha pintar mengatur peluang. Kurang lebih seperti itu.

Seperti dulu ketika saya membuat majalah IDEA dengan tema Kiamat, hampir seratus persen tidak ada tulisan saya, kecuali yang wawancara (salah satunya saya sendiri yang nranskrip) dan pada halaman-halaman muka, semacam sambutan dari awak redaksi. Oleh para senior, saya dikritik habis-habisan. Mana tulisanmu, tad? Kok nggak ada. Apalagi ditambah tampilan majalah yang kayak Majalah Bobo, banyak gambarnya..hahaha. Hashtag #CUEK

Waktu itu saya menyadari kesalahan saya, tetapi setelah saya pikir-pikir, nggak jugak sih ya, emang, pemimpin itu harus nulis apa? misalnya kamu jadi CEO Alfamart, apakah kamu yang harus kulakan barang daganganmu untuk semua outlatemu? Atau, apakah kamu harus menjadi kasirnya dan jaga barang daganganmu? Kan, enggak. Semua itu bisa dikerjakan oleh orang lain atas kendalimu. Iya enggak?

Namun, setelah penerbitan majalah edisi KIAMAT itu, saya kembali mengevaluasi diri. Dan pada terbitan selanjutnya, saya banyak terlibat langsung dalam penulisan. Ikut nulislah karena banyak dapat kritikan dan masukan. Terutama pada halaman-halaman awal, banyak diisi oleh tulisan saya..hehehe. Namun, setelah saya pelajari, langkah saya ini termasuk otoriter. Karena seharusnya tugas tersebut saya pasrahkan kepada tim redaksi, tidak harus oleh pimred. Ya, saya memang tipikal sulit mempercayai kerjaan kalau tidak ada keseriusan dari tim, dan terpaksa, saya ambil alih sendiri kerjaan itu.

Memang, dalam seni memimpin, ada banyak tipikal kepemimpinan. Ada seorang pemimpin yang kerjaan-nya nyuruh saja tetapi ia sendiri tidak mau bekerja. Ada juga pemimpin yang bisa menjadi leader atau koordinator, tetapi dia tidak mampu menggerakkan massa, seakan-akan dia yang malah bukan pemimpin-nya, karena dia banyak disuruh oleh bawahan-nya. Itu tipe pemimpin yang bisa menggerakkan massa tetapi kacau dalam sistem manajerial-nya, ia tidak tahu, setelah ini ngapain. Ada juga pemimpin yang bagus dalam sistem manajerial-nya, menyapa dan mengetahui keluhan bawahan-nya, dan tepat dalam mengambil kebijakan. Dan yang terakhir itu yang tidak banyak dimiliki oleh seorang pemimpin. Pertanyaannya, kamu tipe mana?

Semua itu ada dalam pribadi kita masing-masing. Tentu, kita bisa membentuk-nya hingga pada level pemimpin yang mampu mengatur sistem dan mengambil kebijakan yang bijak dan matang dalam menentukan keputusan. Oleh sebab itu, harus diasah secara terus menerus. Mengutip Gene Wade, pendiri CEO Universitynow, pemimpin adalah seorang pendatang dengan ide-ide baru dan mampu menggerakkan organisasi/komunitas dengan berpikiran maju. Ia juga selalu bisa menginspirasi serta menjadi panutan/contoh banyak orang.

Kalau di dalam bahasa Inggrisnya, biar keliatan keren; “leadership is defined as the purposeful behavior of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good”. Termasuk di sini, dalam status-status saya di facebook, terkadang saya mampu menginspirasi jutaan kaum mustadh’afin (baca: Jomblo), dari bagaimana cara menertawakan dirinya dalam kesendirian. Bahkan, pernah ada sebuah pesan singkat di BBM yang meminta dan memohon kepada saya agar berkenan menjadi pimpinan Thariqat al-Munfaridiyyah Al-‘Akutiyyah..hahaha.


Jogja, 9 Juni 2015. Di ruang perpus pusat lantai 2 depan fotocopy.



Kali ini, saya ingin berbagi inspirasi dari mengikuti acara Wedangin (Wedangan Inspirasi) yang diadakan oleh penerbit Bentang Pustaka, semalam, bersama dalang jancuk, Sujiwo Tedjo dan penikmat kajian sufi, Candra Malik.

Saya menulis berdasarkan apa yang saya ingat saja. Kalau meniru gaya Candra Malik, biarlah jemari-jemariku sendiri—yang sudah menemani sekian lama ini—untuk mengurai apa yang diinginkannya.

Tema yang disinggung semalam adalah tentang menulis. Ya, terutama menulis tentang ‘ketidaktahuan’. Berapa banyak di dunia ini yang tidak kita ketahui? Dalam hal terkecil saja misalnya, siapakah diri Anda sebenarnya? Apakah kamu manusia? manusia yang bagaimana? Manusia yang setengah manusia ataukah baru berproses menjadi manusia? Demikian contoh kecil dari ketidaktahuan itu.

Nah, justru dengan ketidaktahuan kita, dan kita mencoba terus untuk menggalinya, maka akan kita temukan sebuah rangkaian kata, rangkaian kalimat. Sebagaimana kisah Rahvayana yang bisa menemukan sisi romantismenya kepada Sinta karena ketidaktahuannya. Maka, ditulislah sebuah surat cinta untuk gadis yang dikaguminya itu, Sinta.

Dengan begitu, menulis merupakan sebuah ikhtiar seseorang untuk menemukan siapakah jati dirinya, siapakah dia sebenarnya. Apapun itu yang kamu tidak ketahui, maka tulislah! Demikian pesan dari Mbah Tedjo dan Gus Can.

Sebab, ketidaktahuan kita sehari-hari apabila bisa dimanaj dengan baik, yakni dengan cara menulis, maka akan mampu menghasilkan karya yang dahsyat. Seorang Sudjiwotedjo ataupun Candra Malik, saya kira dia mengawali ketidaktahuan nya itu dengan baik. Tentu tidak langsung ‘jadi’. Tetapi dia sudah melewati step-step atau tahapan yang bisa menjadikan dia sekarang ini. Tentunya, dengan melewati proses yang panjang nan terjal. Seperti kisah yang disampaikan oleh mbah Tedjo sendiri bagaimana ketika beberapa naskahnya dikembalikan oleh redaktur harian Kompas. Namun, bukan berarti karya tersebut tidak laik jual, tetapi, momentumnya saja yang kurang tepat, menurut saya.

Wanita dan Cinta
Yang diharapkan oleh wanita sebenarnya bukan hanya harta atau ketampanan sosok pasangannya, akan tetapi, keabadian. Nah, keabadian ini yang banyak dilupakan oleh banyak orang. Ya, keabadian itulah yang muncul di dalam jiwa Rahvayana dengan cara menuliskan surat cinta kepada Sinta (wanita idamannya).

Seperti kita ketika menuliskan sebuah catatan atau puisi untuk seorang wanita yang kita cintai, tulis saja nama dia dibawahnya, “to: markonah” misalnya, dan suatu saat nanti kamu perlihatkan tulisan itu kepada dia. “Saya yakin, dia pasti akan klepek-klepek”. Demikian saran mbah Tedjo.

Wanita memang sangat suka dengan puji-pujian yang berbunga-bunga, namun apabila hal tersebut hanya kau lontarkan begitu saja, pujian itu hanya akan menjadi angin lalu. Berbeda dengan menulis. Maka akan mengabadi. Selamanya. ‘Abadan ‘abada>.

Menulis itu ibarat orang naik sepeda, tidak usah belibet dengan aturan. Diterjang saja. Apa yang ada diotakmu, tulis saja. Seperti orang ketika naik sepeda, dia tidak usah memakai aturan-aturan, bagaimana nanti kalau belok kiri, harus direm, atau bagaimana nanti kalau jatuh, dan lain sebagainya.

Kalau menurut saya sendiri menulis itu memang sebuah ritual umat manusia yang wajib dikerjakan setelah kewajiban menjalankan ibadah shalat. Sebagaimana di dalam ayat Qur’aniyyah-nya Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad pada wahyu pertama (surat al-‘alaq 1-5). Yakni setelah nabi Saw di suruh membaca (iqra’), selanjutnya, redaksi ayatnya adalah dengan menyatakan pena (qalam), manusia diperintahkan untuk menulis sebuah ketidaktahuan (alladzi> ‘allama bi al-qalam).

Menulis juga tidak butuh guru, sebagaimana seorang murid kepada mursyidnya. Tidak butuh bimbingan. Karena menulis hanya butuh keberanian dan melawan rasa takut. Ketika kamu menulis untuk media massa misalnya, kamu harus berani bertarung melawan puluhan atau mungkin ratusan penulis-penulis lain. Tentunya, dalam hal ini kamu sedang bertarung gagasan, adu ide.

Sebab itu, jadikanlah menulis itu semacam ritual, sebagaimana kamu dalam menjalankan ibadah shalat. Shalat adalah ibadah yang transenden pengabdian seorang hamba kepada Tuhan, nah, implikasi dari shalat itu sebenarnya adalah menulis, karena ketika kamu sedang mengerjakan shalat pasti akan banyak ide-ide yang muncul. Saya yakin ketika Anda sedang menjalankan ibadah shalat, seratus persen banyak tidak mengingat Tuhan, tetapi memikirkan hal-hal lain. Sebab itu, menulis adalah sebagai wujud rasa syukur kita kepada Tuhan yang sudah memberikan gagasan atau wahyu, disaat shalat.

Yang terakhir, jangan lupa. Apapun yang kamu tulis, harus diingat, resapilah dengan  ‘roso‘ atau ‘cinta’. Karena suatu hal yang kamu kerjakan apabila tidak kamu sertai dengan roso atau cinta, maka hanya akan menjadi sebatas tulisan yang nir makna. Walaupun demikian, hal itu masih jauh lebih baik daripada tidak menulis sama sekali. Terimakasih Mbah Tedjo dan Gus Can atas inspirasi nya. Salam hangat dari saya.

Jogjakarta, 18/5/2015










Tuhan, sudah sekian kali aku berucap syukur atas tanggal kelahiranku. Namun, hal itu tak sebanding dengan rahmat dan belas kasihmu kepadaku. 24 tahun silam aku dilahirkan dari rahim seorang ibu yang penuh kasih sayang. Beliaulah wanita yang—pada waktu itu—berjuang mati-matian seusai 9 bulan mengandungku. Terimakasih-ku, Kau telah menitipkanku kepada sosok yang tepat; tidak menelantarkanku ketika aku kecil, apalagi dibuang seperti kasus liputan di tv-tv itu.

Beliau-lah sosok yang pertama kali memberikan pelajaran kepadaku bagaimana mengeja huruf “a-i-u-e-o, alif, ba’, ta’, tsa’, jim, dal” hingga aku bisa merangkai kata seperti ini. Tidak menjadi ummiy (lagi). Darinyalah aku belajar mencinta, belajar mengasihi keluarga, sahabat dan tetangga. Darinya aku diajarkan bahwa hidup ini tak lain adalah “perjuangan dan do’a”. Tanpa perjuangan akan menjadi sia-sia, tanpa do’a tak akan ada senjata yang bisa merobohkan asa.

Pada waktu aku dilahirkan di bumi ini, sudah fitrahnya engkau memberikanku tanggungjawab, sebagaimana makhluk-Mu yang bernama Adam ‘alaihissalam. Engkau menciptakan-ku dari unsur (saripati) tanah liat, lalu engkau hembuskan ruh suci yang itu ternyata bagian dari-Mu. Wajar saja bila  malaikat tunduk dan mau bersujud kepada Adam, atas nama-Mu, atas perintah-Mu. Karena Engkau sesungguhnya sudah menyatu menjadi bagian dalam tubuhku ini. Dalam sabdamu, “Wa nahnu aqrabu ilayhi min habl al-warid” [Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya] (50: 16). Dulu, kata-kata seperti itu juga aku temukan di dinding-dinding pesantren yang selama 6 tahun aku di sana. “Tuhanku lebih dekat daripada urat nadiku”.

***
Pasti, di tanggal ini, akan banyak ucapan-ucapan serta hadiah yang bagaimana aku tidak bisa membalasnya satu persatu. Di tanggal ini pula, adakalanya yang tahu lewat pemberitahuan (notifikasi) dinding fesbuknya. Ada juga yang tanggal ini sudah merasuk di dalam sanubarinya; 28 februari. Atau, ada juga yang sudah beberapa bulan yang lalu, dengan sengaja men-set up alarm hpnya hingga berdering memunculkan tulisan; “my inspiration, my beloved friends, happy birthday”. Ada banyak cara memang seseorang dalam memberikan kejutan kepada saya. Atas nama pribadi, saya mengucapkan banyak terima kasih. Dan sekali lagi, terimakasih atas do’a-doanya.

Saya pun ikut balik mendo’akan kalian. Supaya yang jomblo segera mendapatkan pasangan, setelahnya biar disegerakan; ijab-qabul. Biar menjadi pasangan yang sah dan berkah. Agar harapan yang sudah kau gantungkan tidak menjadi luka yang menyejarah. Dan yang belum kelar tugas akhirnya supaya dipermudah. Hingga menjadi sarjana, yang dalam pernyataan imam Al-Ghazali disebut; Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (seseorang yang Tahu (mempunyai ilmu), dan dia Tahu kalau dirinya itu Tahu). Sehingga ilmunya itu bermanfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Amien.

Dan yang lagi ngejar beasiswa ke luar maupun dalam negeri, semoga hasil maqsud. Cita-citanya tercapai. Yang penting, kalo cair jangan lupa ngajak makan-makan saya, oke. hehehe. Dan do’a-do’a yang lain biar nanti dijawab sama Tuhan saja..hehehe.
***
Hidup terus berjalan. Tiada hentinya kita selalu berproses menuju kesempurnaan. Mari terbang setinggi-tingginya tanpa menjatuhkan yang lain. Mari menikmati proses ini dengan segala skenario yang tak terduga dari-Nya. Kehidupan kita memang tidak seperti Peekey (dalam film PK) yang dengan remot kontrolnya, ia bisa pergi dari bumi, menghindar dari masalah. Tetapi perjalanan ini adalah petualangan yang mendewasakan, mungkin bisa seperti Pekeey atau jauh lebih rumit dari Peekey. Terpenting adalah proses. Sebagaimana proses perjalanan Pekeey yang penuh liku mencari remot kontrolnya yang hilang. Belum lagi ketika cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun, apapun itu, selalu ada jalan untuk meraihnya kembali, meskipun dengan orang yang berbeda.

Yang pasti, ada cinta sejati yang bisa kita raih kapanpun. Tinggal menekan tombol, sebagaimana yang sudah diajarkan olehmu sedari kecil dulu. Di sanalah hakikat kehidupan. Dan di sanalah tujuan mengapa kita lahir di dunia. Kita bisa berasyik masyuk dengan-Nya, mencurahkan isi kegalauan kita selama ini, tinggal menekan 2-4-4-3-4—itulah sebenarnya hakikat dari perjalanan..

Catatan hidup Muhammad Autad An Nasher.


Yogyakarta, 28-02-2015



28 Februari, adalah hari dimana aku dilahirkan di bumi. Setelah menjalani masa-masa terberat dan proses yang panjang di alam ruh (azali). Berdasarkan akte kelahiran, aku dilahirkan 22 tahun yang lalu. Dan, di 2014 nanti, usiaku akan bertambah satu digit dibelakang; menjadi 23 tahun.

Di hari ulang tahunku, biasanya banyak ucapan selamat atas hari dimana ketika aku dihidupkan di alam raya ini. Mulai dari pesan (inbox) di hp, media sosial, maupun face to face, secara langsung mengucapkan “selamat” atas waktu aku lahir. Yang alhamdulillah—pada waktu itu, terlahir normal tanpa operasi cesar—tidak seperti adekku yang bontot, Abdurrahman Al-Aulawi, yang lahir dengan terpaksa harus di cesar.

Dia lahir di tanggal 24 Desember tahun 2001. Sekarang usianya 12 tahun. Aku pun mengucapkan selamat ulang tahun atas kelahirannya kemarin. Aku juga mendo’akan dia agar selalu sehat, menjadi anak yang taat terhadap perintah syari’at agama dan juga orang tua pastinya. Dia memang anak yang paling kecil dikeluarga kami. Aku mendo’akan demikian karena biasanya anak terlahir paling bontot itu ‘agak manja’, suka minta, kalau tidak dituruti sama nyokap, andalannya adalah satu; nangis, merengek-rengek..hehehe.

Wajar saja, karena dia masih kecil. Masih belum dewasa. Orang yang belum dewasa memang begitu, belum begitu tahu kondisi orang tuanya, yang penting, apa yang dia mau, harus dituruti. Kalau tidak, pasti mengancam ke orang tua. Semisal, “laaah.. aku angger ora ditukokke sepeda polygon moh sekolah Arab”. Hehehe. (hanya contoh). Padahal dia sebenarnya sudah punya sepeda Wimcycle keluaran terbaru. Wajar saja, karena dia masih kecil. Aku pun tak jarang menasehatinya. Yakni dengan cara yang baik. Tidak lantas aku maki-maki dia. Kasihan, anak kecil, belum tahu apa-apa. Jangan dimaki-maki.

Namun, yang terkadang saya sesalkan adalah ketika permintaannya tidak dikabulkan orang tua, kemudian merusak perabotan rumah, entah itu membuang sandalnya sendiri, atau merusak sepedanya, dengan dalih agar nanti diberikan yang baru. Hehehe. Otak anak kecil itu memang licin juga ketika nafsu atau kemauannya itu tidak dituruti. (hampir sama kayak orang beragama di negeri ini).

Nah, dalam situasi ini, kalau kemudian Ayah saya kok tiba-tiba berbalik keras kepadanya. Maka, dia pasti akan lebih main ngancam. “aku pe minggat soko omah kene”. (ini sekedar contoh saja).hehehe. Maka, ibu pun langsung turun tangan. Saya selalu salut dengan sifat Ibu (wanita), tak tega dengan anaknya, jiwa kasih sayang kepada anak begitu besar. Pasti ada saja jalan untuk menenangkan bocah kecil itu. Selalu mengusahakan agar bagaimana caranya untuk mendapatkan uang demi membeli sepeda. Entah dengan cara hutang, atau menggadaikan kalung emasnya, dan lain-lain. Yang penting dengan jalur halal.

Memang benar, sifat rahmah (kasih sayang) dan cinta seorang ibu (baca: orang tua), selalu mengalahkan segalanya. Tidak peduli tingkahnya dalam menggadaikan kalung emas, misalnya, lalu dibodoh-bodohkan orang, atau “diunen-unen-i”. Biasanya, sifat orang itu begitu. Bila tidak setuju, terus mencemooh. Ngunen-nguneni. “Mbok yo nduk nduk.. koyo ngono kok dituruti. Hehehe (contoh saja).

Yah, apapun mulut orang bicara, ibu membiarkan, yang penting demi anak. Tampaknya ibu sedang mengilhami sifat Tuhan, yang kasih sayang kepada makhluknya. Walaupun makhluknya sendiri sering melanggar perintahnya, tetap saja diberi rezki, tetap saja diberi sesuatu yang diminta oleh hambanya.

Kembali dihari ulang tahunku, biasanya, selain buah ucapan “selamat”, tak jarang orang terdekat ngasih hadiah (spesial) kepadaku. Ada yang berupa makanan, kaleng tabungan, buku, lukisan, dompet, jam tangan, dan lain-lain. Semuanya masih aku simpan rapi, kecuali yang tidak aku simpan, karena hilang sewaktu di perjalanan..hehehe.

Semenjak aku kecil, dikeluargaku tidak ada perayaan sama sekali, laiknya orang jaman sekarang yang dengan potong kue, tiup lilin, dan lain sebagainya. Dulu, sewaktu masih kecil, ketika mendapatkan undangan ulang tahun, senangnya minta ampyun, karena pasti nanti akan mendapatkan jajan dan hiburan dari mas badut.

Tetapi seumur-umur, di hari (perayaan) ulang tahunku sendiri, tidak pernah dirayakan. Cukup dengan banca’an, yang itu pun bukan dirayakan dengan hingar bingar atau mendatangkan tetangga sekitar, ke rumah. Cukup Ibu membuat sesuatu makanan dan kemudian dikasihkanlah kepada sanak saudara atau tetangga terdekat. Itulah kebiasaan yang terjadi pada keluarga kami.

Aku pun ‘mengucapkan terimakasih’ kepada saudara dan teman-teman yang sudah sedianya mengucapkan ‘selamat’ atas kelahiranku. Padahal aku tidak tahu, apa benar aku dilahirkan pada tanggal 28 Februari, akan tetapi berdasarkan akte dan keyakinanku atas perkataan ibu, beliau mengatakan aku dilahirkan pada tanggal itu, dan aku pun percaya saja. Meyakininya.

Kepercayaan dan keyakinan tidak bisa mengubah segalanya. Aku manut saja. Kalaupun toh saya ‘tidak’ dilahirkan pada tanggal itu, tapi saya akan memperingati tanggal itu sebagai hari kelahiran(ku). Yakni bisa dengan cara mentraktir teman, atau dengan jalan ritual; berpuasa. Hal ini sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul Saw. yang setiap hari senin, beliau menjalankan puasa. Karena menghormati hari kelahirannya.

Di hari aku dilahirkan, aku berucap penuh syukur, dengan ucapan terimakasih kepada orang tua ku (terutama Ibu) yang sudah berkorban, berjuang selama 9 bulan dan akhirnya dilahirkanlah sosok mungil yang kemudian diberi nama Muhammad Autad An Nasher. Nama itu bukan pemberian orang tuaku, tetapi kata bapak itu nama yang ngasih tokoh kharismatik dari Kudus. Karena memang ayahku adalah asli orang Kudus.

Di samping saya mengucapkan terimakasih kepada teman, sahabat, saudara yang telah memberikan ucapan “selamat ulang tahun” kepadaku itu, aku pun tidak lantas menyalahkan orang yang tidak mengucapkan selamat atas hari dimana aku dilahirkan. Karena sah-sah saja. Tidak kewajiban. Toh itu hanya peringatan. Tetapi apapun itu, dialah sahabatku, temanku yang selalu mengisi hari-hariku.

Terkadang, bukan ucapan selamat yang dilontarkan darinya, malah meminta banca’an, makan-makan. “ayo makan-makan tad’.. katanya.

Di tanggal kelahiranku juga, aku pun pernah berkolaborasi dengan sahabatku, Mukhammad Zulfa (teman di FUPK Semarang), untuk merayakan hari special itu. Secara kebetulan, hari lahir kita adalah sama; 28 Februari. Cuma tahunnya yang berbeda. Kita pun saling memberikan ucapan selamat atas anugrah, rahmat dari Tuhan yang Maha Kasih. Tuhan yang tak membeda-bedakan suku, ras, agama, karena semua itu ciptaannya.

Tuhan yang lebih menilai seseorang bukan dari paras cantik atau tampannya, akan tetapi menilai pada kualitas ibadah (ketaqwaan) hambanya. Walaupun dia ganteng, tetapi suka mencederai orang lain, berarti melanggar UUD Tuhan. Makanya, Nabi dilahirkan ke bumi tugasnya adalah untuk membenahi moralitas. Innama buistu liutammima makarimal akhlak. Akhlak atau khuluq itu kaitannya dengan penyakit bathin (yang tidak terlihat).

Hal yang samar atau tidak terlihat, itu lebih membahayakan. Orang dengki, lalu suka marah-marah, itu imbasnya ke orang lain. Efeknya bisa meluas. Tetapi kalau yang sakit itu pada dhohirnya, contohnya sakit pusing, atau sakit perut. Orang lain tidak ikut merasakannya. Jadi penyakit bathin lebih berbahaya. Demikianlah tugas Nabi di bumi. Membenahi akhlak, moralitas dan membawa rahmat untuk ‘semua’. Bukan golongan tertentu saja. Rahmatan lil’alamien. Bukan lil muslimien.

Dalam hal kelahiranku di bumi ini, berarti Tuhan optimis menjadikan ku sebagai khalifah fil ardh (kalau mengikuti bahasa al-Qur’an). Khalifah di bumi tugasnya adalah membuat kedamaian dan bukan kebringasan (intoleran).


Dalam mengakhiri tulisan yang sederhana ini, aku ingin mengucap syukur kepada Tuhan. Yang dengan kasih sayangnya selalu memberikan kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara. Terimakasih Tuhan, atas kepercayaannya yang telah diberikan kepadaku. Semoga bisa memberi manfaat ke yang lain. Amien.