Mengapa organisasi NU (Nahdhatul Ulama') itu lebih cenderung mengurusi
orang yang mati atau tidak jauh-jauh dengan kuburan?begitu tanya seseorang.
Hemat saya, bila melihat sejarah dari lahirnya organisasi ini adalah ketika
adanya komite Hijaz, yakni ada utusan dari Indonesia (diantaranya KH. Raden
Asnawi Kudus) untuk terbang ke Makkah, yang mana tujuannya adalah untuk menolak
aksi rencana kelompok Wahabi yang hendak menghancurkan situs sejarah Islam
maupun pra islam, termasuk juga membongkar makam Rasulullah SAW. mengingat
banyaknya --anggapan dia-- bahwa makam tersebut dijadikan tempat memuja, syirik,
dan bid'ah.
Maka sangat wajar apabila NU ini identik dengan "ritual" semacam,
haul, istighosah, manaqiban, mitong dino, nyewu, de el..el.. karena sejarahnya
seperti itu. komite hijaz; ngurusi kuburan.
Beda lagi dengan Muhammadiyah. yang mana pada waktu itu, KH. A. Dahlan
(sang pendiri) pada kondisi sosiologis masyarakat sekitar, banyak yang
menghardik anak yatim dan membiarkan orang miskin. disinilah kemukjizatan yang
beliau ajarkan, dalam ayat terakhir dari surat al-ma'un (QS.107 1-3). itu sering
beliau ulang-ulang dalam setiap pengajian. ada muridnya yang bertanya.
"mbah, padahal ayat ini kan sudah khatam kemarin? mengapa di ulang-ulang
terus? kemudian beliau menjawab; "apakah kamu sudah menyantuni anak-anak
yatim dengan baik? apakah kamu sudah memberikan makan dan ikut ngopeni orang
miskin?" belum, kan?" (kurang lebih seperti itu). Maka sangat wajar
saja, apabila organisasi Muhammadiyah ini lebih "mentereng" dan tidak
jaun-jauh dengan Rumah sakit--yang ada dimana-mana--itu dan lembaga-lembaga
panti asuhan, anak yatim piatu. Kedua organisasi besar itu merupakan warisan
agung oleh bangsa Indonesia, keduanya sesama pengampu ilmu dari makkah,
keduanya, sama-sama 'alim. dialah: KH. Hasyim Asy'ari dan KH. A. Dahlan.
Lebih-lebih, sangat bangga, kalau saya pribadi menjadi orang NU, karena
sistem keanggotanya adalah "abadi". mulai dari lahir saja, ada
istilah mitoni (7 bulan dalam kandungan), ketika meninggal pun demikian, masih
di do'akan. di tahlili, dikirimi surat Yasin, di Khol i. dan lain-lain. dengan
demikian. mari kita lestarikan tradisi "an" itu. Dan pastinya, tidak
hanya sekedar dibaca, tetapi, juga direnungkan dan di tadabburi maknanya. itu
lebih berkah. menurut saya. Wallaahhu A'lam.
apiiiiik gus
Yuk Ibadah sesuai alqur'an dan sunah yuk