Pengantar penulis

Menulis itu berat, biar aku saja yang melakukannya. Kalian tinggal baca aja :)

Kurang lebih ada tiga alasan seseorang mau nyantri, hidup di pesantren. Pertama, bisa jadi di rumah dia nakal, terus oleh orang tuanya ditaruh di pesantren. Agar kelak menjadi anak yang baik. Kedua, karena dia memang benar-benar ingin mendalami ilmu agama secara lebih--ya, mungkin dia anaknya kiai/tokoh masyarakat di desanya--sehingga diharapkan nanti bisa menjadi penerus sang ayah. Ketiga, bisa jadi dia ikut-ikutan, entah karena ada tetangganya yang mondok, atau kakak/saudara sepupunya yang sudah duluan bertempat tinggal di pesantren. Namun yang jelas, tujuan dari ketiga alasan tersebut mempunyai muara yang sama; mencari ilmu.

Dulu, oleh guru saya di sekolah, beliau berpesan; seingat saya sih kalau tidak salah pas ngaji kitab Ta'limul Muta'allim. Jadi pesan beliau begini: "anak-anakku kabeh, nalikane sira lungo belajar, luru ilmu, ojo lali niat ditoto, sing pertama yaiku, supaya entuk ridhone Gusti Allah, sing kaping loro yaiku niat ngurip-ngurip agama Islam, terus sing kaping telune diniati ngilangake kebodohan." Hal-hal yang seperti ini, di sekolah madrasah manapun, saya kira semua menerapkannya. Saya tidak tahu bagaimana di sekolah-sekolah umum, seperti SMP.SMA, dll.

Sebelum dan sesudah belajar pun ada ritual do'anya. "Ya Fattahhu Yaa 'Alim-Iftah Lanaa Baaba Fadhlikal 'Adzim." (doa pembuka). "Subhanarabbika Rabbil 'Izzati" (do'a penutup). Dan hal-hal seperti ini hampir tidak pernah saya temukan sewaktu di bangku kuliah. Terkadang, pas pertama kali masuk di dunia kampus, saya merindukan hal-hal yang begitu; doa. Kelihatannya sih sederhana, sepele, tapi penting.

Di kalangan pesantren, do'a memang menjadi andalan, senjata utama. Tidak hanya seusai mengerjakan shalat an sich, tetapi di dalam segala hal. Mulai bangun tidur, sampai tidur lagi, diajarkan do'a. Dalam analisis Toshihiko Izutshu--seorang orientalis asal Jepang--itulah yang dinamakan relasi Tuhan dan manusia dalam bentuk komunikasi verbal. Yakni dari manusia ke tuhan. Lebih lanjut bisa baca bukunya; God And Man In The Koran.

Dari do'a ini kemudian memunculkan hal-hal yang irasional. Contohnya, sewaktu saya nyantren dulu, para santri sebelum ujian (terutama pas UAN), biasanya manakiban dulu, ziarah, minta do'a ke para kiai/sesepuh nanti dikasih air, lalu suruh minum, dan, terpenting adalah, dulu istilahnya "ngisiake polpen/pencil". Jadi, polpen/pencilnya dikumpulin jadi satu, terus diisikan ke kiai yang ampuh. Walaupun memang terkadang menjadi sindiran oleh sebagian teman-teman saya, "terus polpene iso mbunderi dewe ngono?". hehehe. jaman semono, Bahkan, yang lebih mistis lagi adalah di ruangan ujian itu disebar tanah dari kuburan, sambil diwirid, supaya bapak penjaga ujian ngantuk. Hayo, kae kelakoane sopo ngono iku?heuheuheu

Do'a, mantra, wirid, ataupun lainnya yang berupa pengharapan dari hamba ke Tuhan merupakan sugesti. Anda yang tidak bertuhan sekalipun (katakanlah atheis), pada hakikatnya akan mengakui keberadaan-Nya, mengakui ada kekuatan besar diluar diri kita, dengan fakta bahwa selalu ada pengharapan-pengharapan, selalu ada do'a-do'a di dalam hati kecil kita. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Bahkan, Tuhan sendiri pun berdo'a kepada hambanya, yakni dengan bersholawat kepada Nabi Saw.

Walaupun demikian, tidak semua do'a, harapan, keinginan yang kita minta selalu diijabahi dan dikabulkan oleh-Nya. Karena itu, tidak semua do'a itu baik untuk kita, dan tidak semua permintaan itu menjadikan diri kita lebih baik (seperti gambaran di film drama religi yang diperankan oleh Aming; "Do'a yang Mengancam").

Bukankah telah banyak diantara kita yang tidak meminta tetapi diberi, dan yang terus-terusan meminta tidak kunjung ditepati? tanya kenapa?


Jogja, 6-11-2015



Menjadi jadwal wajib di pesantren saya, bila habis jama'ah shalat subuh adalah ngaji al-qur'an, sorogan. Bin nadhor. Ya, ada juga yang setoran hafalan, bil ghaib. Soal urusan makhraj bacaan al-qur'an, para guru yang mengajar sangat ketat sekali. Secara, para asatidz-nya adalah langsung dari yanbu' pusat. Ya, pesantren saya masih satu naungan dengan yayasan Arwaniyyah.

Dalam suatu wasiatnya, KH. M. Arwani Amin Said--atau yang akrab disapa Mbah Arwani, berpesan begini: "Aku wekas karo sliramu: wiwit mongso iki sliramu saben-saben deres supoyo tartil. Mergo senejan mung setitik nanging tartil iku luwih utama lan manfaat tinimbang olih akeh nanging ora tartil." Masih panjang sebenarnya wasiat mbah Arwani yang tertulis dalam kartu ngaji itu. Yang intinya, ketika kita ngaji al-Qur'an, mbah Arwani berpesan supaya para santri-santrinya itu membaca al-Qur'an dengan tartil, walaupun dapat sedikit. Karena begini, kalau orang yang sudah terbiasa tartil, terus suatu saat nanti dia ngaji cepat, itu tetap enak didengarnya, jelas. Berbeda dengan yang terbiasa cepat kemudian di suruh pelan-pelan.

Saya sendiri pernah nyemak orang khataman, dan disitu saya benar-benar merasakan; mana orang terbiasa ngaji secara cepat dan mana yang terbiasa ngaji santai, tartil. Dan, yang terbiasa cepat itu bacaan al-Qur'annya nggak karuan, nggak jelas. Jadi dalam hati saya rasan-rasan, "iki ngaji tah nggremeng cah". Di sinilah yang dimaksud Mbah Arwani, itu berbahaya. Jadi wajar, kalau saya dulu pas ngaji pertama kali di pondok, membaca al-fatihah saja bisa berbulan-bulan. Memang sih, jengkel banget, sudah antri lama, tetapi nggak dinaik-naikkan sama guru saya. Tetapi, sekarang saya baru bisa merasakan atsarnya. Terimakasih pak guru.

Yang menarik dari wasiatnya Mbah Arwani adalah, "sitiklah nanging tartil". Sedikitlah tetapi berkualitas. Sitiklah nanging barokah. Sedikit tak masalah yang penting barokah. Wasiat itu seperti pepatah Jawa, alon-alon waton kelakon. Pelan-pelan yang penting sampai. Percuma dapat banyak tetapi tidak bisa manfaati, tetapi malah menjadi laknat. Dan wasiat itu sangat dipegang sungguh-sungguh oleh para santri-santri beliau hingga sekarang.

Saya ada cerita menarik. Kemarin, sewaktu Muktamar NU di Jombang, kebetulan saya hadir di sana. Sewaktu berkunjung di pesantren Tambak Beras, saya bertemu kawan saya, kebetulan dia jaga stand Mubarokatan Thoyyibah. Di situlah gayeng, ngobrol panjang hingga sampai dia curhat soal hafalan Qur'an-nya yang belum selesai-selesai.

Dia bercerita, pernah suatu ketika tetangganya itu minta dia untuk membaca al-Qur'an, khataman. Terjadilah dialog. "Mas, kulo nyuwun tulung sampeyan mangke sing ngaos ten griyo kulo"pinta tetangganya. Terus dia jawab, "nyuwun ngapunten pak, niki qur'an kulo dereng rampung, mungkin mas niku mawon-- dengan menunjuk seseorang--sing al-qur'ane sampun rampung."jawab teman saya. "wah mboten mas, piyambak e nek ngaji niku mboten enak dirungoake, kecepeten. Kulo mboten nggolek sing cepet lan akeh pikantuk juz-e, mas. Sak tutuk-e mawon, penting sae waosane."sahut tetangga teman saya tadi.

Dari sini saya mengambil kesimpulan, dimanapun orang berkualitas, walaupun punya skill yang minim, tetapi dia fokus, pasti akan dicari orang.

Terlepas dari itu, saya sendiri salut dengan para penghafal al-Qur'an, mereka itu begitu sabar, telaten dalam merawat bacaan al-Qur'an-nya. Siang menjadi malam, malam menjadi siang untuk tadarus, demi merawat hafalannya. Itulah alasan kenapa saya pengen banget punya calon istri yang hafal al-Qur'an, bukan karena hafalannya, tetapi, cara dia merawatnya. Ciye. Iya, seperti kamu.. iya kamu.


Jogja, 4-11-2015



Bukan hanya sekedar penutup aurat. Tetapi sarung adalah wujud identitas sosial di kalangan pesantren. Jadi jangan heran apabila ada santri ketika shalat, walaupun ia sudah menggunakan celana (dan auratnya sudah tertutup), tetapi ia juga memakai sarung. Celanaan tapi sarungan. Terlihat seperti balapan motor GP. Kelihatan aneh? memang.

Jangan dikira, memakai sarung juga ada tutorialnya. Kalau dia santri baru, biasanya nyarungnya, cara melipatnya, dari samping ke tengah. Dan itu mudah mbrojol. Sedangkan santri yang veteran-veteran itu; sudah lihai, ketika nyarung, dilipatnya dari tengah; dari dua arah, kanan-kiri. Jadi kuat. Dilorot pun tak bisa. Para santri juga pede, ketika pergi ke mall pakai sarung, pakai peci, dan sandal jepit. Sarung dan peci bukan hanya sekedar dipakai ketika mau shalat atau ada acara keagamaan. Tetapi sudah membudaya.

Saya tidak tahu, semenjak kapan identitas berupa "sarungan" itu membudaya di kalangan pesantren. Apakah ketika pertama kali adanya pondok/pesantren, budaya bersarung itu sudah ada? Atau ketika santernya perlawanan terhadap kolonial. Yang mana pada waktu itu, dengan sebuah hadis Nabi Saw. "Man Tasyabbaha Biqoumin Wahuwa Minhum". Barang siapa yang menyerupai suatu kaum--para kolonial pada waktu itu pakai celana dan dasi--bagi ia yang mengikuti, berarti termasuk bagian dari kelompok mereka, kolonial. Penjajah. Sehingga gaung sarungan menjadi santer pada waktu itu? Saya tidak tahu. Bisa jadi, iya, bisa jadi tidak.

Yang jelas, sarung adalah sebuah pakaian yang simpel, nyaman, dan menjadi alasan utama mengapa para kiai itu anaknya banyak?heuheuheu. Bahkan ada kitab yang berjudul "Fathul Izar", yang artinya 'Buka Sarung'. Itu kitab kamasutranya para santri--sebelas dua belas sama kitab Qurratul 'Uyun. Saya alhamdulillah sudah pernah ngaji Fathul Izar, dan khatam, dapat sanadnya. Tetapi sayang, belum dipraktikkan saja.heuheu

Sarung juga memiliki kelasnya masing-masing. Di pesantren-pesantren pantura, wilayah pesisir, jangan heran apabila para kiai sarungnya rata-rata bermerk-maliter. Minimal Kecubung atau DPR. Jarang sekali saya melihat kiai yang memakai sarung, bermerk Gajah Duduk, Mangga, atau Atlas. Apalagi yang kain lunyu itu, atau hadiah dari Marimas.

Tetapi, di daerah seperti Jogja ini, para Kiai kebanyakan malah tidak tahu merk sarung yang berkelas. Mungkin beda wilayah, beda tingkat kemaliterannya. Itu berdasarkan pengakuan para pelaku bisnis sarung di sini.

Namun, dari sarungan yang khas pesantren ini, yang saya tertarik adalah; bila memang, budaya sarungan pada waktu itu bagian dari wujud perlawanan terhadap kolonial, sebagai ekspresi politik untuk mengusir penjajah, saya kira sangat keren. Bahkan konon, disekolah saya dulu, para kiainya keukeh, melarang santrinya ikut Ujian Nasional, walaupun pada akhirnya diperbolehkan. Dan juga mengapa hari liburnya itu bukan minggu, tetapi jum'at. Itu adalah salah satu alasan wujud bagian perlawanan itu yang masih bisa dirasakan hingga sekarang.

Penjajah memang sudah terusir 70 tahun silam, tetapi, mereka kini menggunakan topeng dan meminjam tangan anak negeri, yang terus menggarong kekayaan-keyaaan alam bumi pertiwi. Minyak, Batu Bara, Pasir Besi, Tambang, Semen, Konflik Agraria dimana-mana, Siapa yang Menguasai? Siapa pemilik modal yang berada dibalik tragedi akhir-akhir ini?

Sudah saatnya, kaum sarungan unjuk gigi ketika melihat banyak penjajahan di atas tanah sendiri. Sejarah sudah merekamnya. Dahulu, resolusi dan revolusi terlahir dari bilik penjara suci itu. Berani?


Timoho-Jogja, 02-11-2015



Sudah menjadi kebiasaan di Pesantren, bila hari jum'at atau malam jum'at tiba, wajah para santri riang gembira. Karena bisa kluyuran kemana saja, kecuali di tempat-tempat tertentu yang harus membutuhkan ijin, termasuk juga ketika pulang ke rumah.

Di pesantren kami dulu, santri diperbolehkan pulang ke rumah ketika dia sudah mencapai masa aktif satu bulan di pondok. Itu pun cuma sehari semalam pulangnya. Jadi seusai sekolah, entah siang atau sore, terus cabut ke rumah. Kemudian harus balik lagi ke pondok pada hari Jum'at sore. Batas akhirnya adalah mengikuti shalat jama'ah Maghrib. Kalaupun molor-molor dikit ya nggak papa, paling cuma ditanya sama bagian Keamanan. Dan, santri yang pinter, pasti dia ngajak orang tuanya untuk memintakan ijin. Kamu dulu gitu ya?hehe

Kegiatan santri di hari jum'at itu ya, berjanjenan, yasinan, ziarah ke makam leluhur, ro'an (kerja bakti), dan, sepak bola. Yang terakhir itu hukumnya fardhu 'ain. Sepak bola memang salah satu olah raga terfavorit bagi para santri. Kalaupun ada santri yang tidak suka main bola, mungkin dia lebih suka mainin bola yang itu, sambil kukur-kukur mringis-mringis. heuheuheu.

Bahkan, saking gilanya dengan sepak bola, ditiap dinding kamar ataupun lemari, dipasanglah poster club atau pemain bola idolanya. Nah, disini ada cerita menarik soal poster bola itu. Ada salah satu santri yang "lurus-lurus" aja, ketika melihat kamarnya ditempelin dengan foto pemain bola, dia mengkritik. "Kang, fotone wong kafir kok dipasang neng tembok?! mendinglah fotone kiai kang."ujarnya. Karena dia merasa kurang sreg melihat pondok penuh dengan tempelan-tempelan foto yang mereka anggap kafir itu.

Nah, uniknya disini adalah--walaupun sekelas santri, yang konon lebih paham soal agama dibanding dengan yang lain, tetapi dia juga ngefans dengan para artis sepak bola yang konon katanya kafir itu. Saya kemudian berfikir, ternyata, sepak bola mampu menghipnotis, bukan soal perkara kafir atau tidak kafir, bukan soal agamamu A atau agamamu B. Tetapi cinta itu adalah segalanya. Bahkan, teman saya pun siap melanggar aturan pondok, siap melompat pagar demi melihat MU, Juventus, AC Milan, Inter Milan, Real Madrid, AS. Roma--di waktu dini hari, demi bisa menonton idolanya itu. Digundul pun tak apa. Nguras peceren pun tak masalah.

Bahkan, sampai sekarang pun saya masih ingat. Di pondok saya, koran/tabloid BOLA itu menjadi primadona. Walaupun berita sudah basi, koran tersebut tidak lantas dibuang seketika, tetapi, kalian tahu? ada foto/gambar para pemain bola jagoannya. Kemudian di gunting rapi, lalu ditempelkan ke buku khusus--semacam buku agenda--ditempelin satu persatu, dan menjadi koleksi pribadi. Semacam museum pribadi.

Saya kemudian tiba-tiba berfikir, kira-kira para santri itu lebih memilih mana ya, ketika mereka dikasih tawaran antara berziarah ke Old Trafford, San Siro, Guisepe Meazza, Turin, Allianz arena, Bernebeu, dibanding dengan ziarah ke Makkah, Madinah, Mesir, Yaman, atau wilayah timur tengah yang lain? Kalaupun mereka memilih opsi yang kedua, lalu tidak sampai kemudian pilihannya itu mengurangi kecintaan mereka kepada para pemain bola yang katanya kafir itu. Bahkan, shalat tahajud pun siap dilakukan demi mendoakan agar jagoannya bisa cetak gol, dan club kebanggannya itu bisa menang. Juara!


Jogja, 30-10-2015



Menjadi santri, menurutku adalah sebuah pilihan. Dan, orang yang memilih mengikuti suluk-jalur menjadi santri merupakan orang-orang pilihan Tuhan. Saya bangga sekaligus bersyukur dengan itu. Makanya, kalau anda mempunyai adik, atau suatu saat nanti punya anak, silahkan dimasukkan ke pesantren. Biar belajar hidup mandiri, sederhana, laku tirakat. Walaupun memang, kata Gus Mus; "Santri bukan yang mondok saja, tapi Siapapun yang berakhlak seperti santri dialah Santri".

Saya mengamini pernyataan Gus Mus tersebut, tetapi, kesantrian orang yang seperti itu kurang kaffah--kurang sempurna menurut saya. Karena ia tidak merasakan nuansa di pesantren. Nuansa gudiken, kukur-kukur sambil tafakkur, apalagi yang gatal itu dibagian itunya. Kalau belum lecet nggak bakalan berhenti..hehehe. Nuansa dapat hukuman karena tidak hafal alfiyyah--nazhaman 1002 bait mengenai nahwu-shorof (grammer arab), dan konon, yang hafal nazhaman ini, istrinya bakal cantik kayak bidadari. Anda hafal alfiyyah? setidaknya, kejombloanmu ditemani dia..hehe

Tidak merasakan nuansa home sick dan tiba-tiba nangis sendiri di kamar mandi. Nuansa nunggu kiriman dari orangtua, karena sudah ditagih sama debtcolector, nuansa tidak pakek daleman (kolor), cukup pakai sarung saja (ISIS), nuansa nguras peceren (air comberan) karena habis melanggar aturan pondok, nuansa rebutan air habis seduhan kyai, tabarukan, dan nuansa sandal dighosob dan akhirnya enggak kembali,

Bahkan, di pesantren saya, dipintu kamar ditulis: DIlarang Sonjo! Sonjo yang dimaksud disini adalah bermain di kamar tetangga sebelah, lama-lama. Tanya kenapa? karena pada waktu itu banyak barang yang hilang, untuk menetralisir, tidak boleh berkunjung ke kamar sebelah, karena bisa menjadi kecurigaan dan hal-hal yang tidak diinginkan. kalau di pesantren saya memang, apabila tertangkap mengambil hak orang lain (sariqah/maling), maka dikeluarkan. Tanpa ampun. Sebab itu, saya dulu sangat takut apabila kena cobaan "maling". Sebab telah didoktrin, apabila keluar dari pondok itu su'ul khatimah (keluar sebab buruk) maka ada saja cobaan hidupnya. Wallahhua'lam.

Saya pun kemudian membayangkan, bagaimana jika negara ini, pejabatnya itu dari para santri. Setidaknya dia tahu apa makna "kualat", jika hak orang lain itu diambil. Jika hak rakyat itu digarong.

***

Yah, itu hanya secuil kisah dikeindahan hidup di pesantren. Kemarin, dua hari yang lalu, saya menceritakan kelucuan dunia pesantren, karena nglucu adalah bakat anak pesantren. Kalau ada orang yang gampang marah, sedikit-sedikit ngamukan, berarti dia belum pernah merasakan kehidupan menjadi santri. Kalaupun dia sudah pernah nyantri, tetapi masih saja ngamukan, berarti kesantriannya belum lulus. Masih remidi. Suruh nyantri lagi, sampai dia bisa menerima perbedaan dan pendapat orang lain.

Pesantren memang bukan segalanya, tetapi, segalanya bisa kamu dapatkan dari pesantren.

Jogja, 28-10-2015




KAGETAN

Menjadi bangsa kagetan adalah sebuah peristiwa yang, kalau dalam bahasa anak sekarang: 'kurang piknik, dolane kurang adoh', 'mulihe kurang mbengi'. Ketika menemukan lukisan foto mbah Hasyim yang tidak pakek jenggot saja kemudian dipermasalahkan. Kemudian diblow up secara besar-besaran. Apa manfaatnya? Kalau saya yang nglukis, dan pengen saya kayak gitu, apa salah?

Zaman orde baru sudah tumbang, seiring waktu, zaman berubah, tibalah presiden terpilih, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di dalam kepemimpinannya, banyak orang yang terkaget-kaget. Orde baru yang cenderung protokoler, istana presiden yang angker, dan semua orang harus 'sendiko dawuh' apapun kebijakannya; siapa yang berani kritik, libas!

Kemudian berubah drastis di zaman Gus Dur ini. Istana terbuka, siapapun bisa masuk ke dalam tanpa harus membuat perjanjian. Mau sarungan, sandal jepit, silahkan saja. Pintu kran demokrasi dibuka seluas-luasnya. Yang dulunya tertutup rapi, lalu beralih, apa saja--baik media, aliran, ormas, kelompok--berhak ada dan bersuara, tanpa umpet-umpetan. Nggak harus saling curiga.

Warung kopi dan angkringan sampai saat ini ramai hingga larut malam itu, karena demokrasi. Di sana, anda bisa ngobrolin apa saja, bersinggungan dengan kelompok manapun yang kamu suka. Tinggal pilih. Sehingga anda tidak harus menjadi orang yang kagetan.

Kagetan itu dulu juga pernah saya alami ketika pasca lulus dari sekolah/pesantren. Kemudian saya masuk ke ruang belantara universitas. Menemukan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya lihat. Gaya hidup, golongan, cara berfikir, dan lain-lain. Boro-boro ngeboncengin cewek bro, mau salaman aja takut.. hehe. Jangan tanya ya, terus kalau sekarang gimana? mau tahu jawabannya? itulah alasan mengapa sampai sekarang; gue jomblo. (Pencitraan banget) smile emotikon

Kagetan itu memang tidak menjadi soal. Yang menjadi soal adalah ketika kekagetanmu itu kemudian kamu lakukan untuk menjudge orang lain, menghakimi, melabeli, segala sesuatu itu dengan penuh kebencian dan amarah. Betul, ini juga karena demokrasi. Siapapun bisa berucap bebas tanpa tedeng aling-aling. Tetapi, apa kamu tidak sanggup, meletakkan sebuah pisau itu untuk memasak dan mengupas buah, atau hal-hal lain yang jauh lebih bermanfaat, bukan malah untuk membunuh saudara?


Jogja, 24-10-2015



GEMPA

Pagi buta, sekitar pukul 1.10, Jepara dan sekitarnya diguncang gempa, 5.0 SR. Banyak orang yang berhamburan keluar dari rumah. Yang sudah terjaga menjadi terbangun, kaget, panik.

Namun, ada juga yang biasa saja sambi menikmati goyangannya.

Bulan yang lalu, ibu berujar kepada saya ketika Jogja di guncang gempa. "nang, aja urip nek Jogja ya, medeni ngono kok". Saya pun menimpalinya dengan nada santai, "biasa mawon bu, insya Allah mboten nopo-nopo". Waktu itu posisi saya sedang berada di Jepara, karena hari Raya Haji.

Gempa memang tidak mengenal waktu dan tempat. Ia bisa terjadi kapan saja kalau dia mau mengguncang dan menggoyang suasana. Tapi, semua juga bisa menjadi pertanda. Ada apa dengan bumi kita? Sudah berbaikkah kita kepadanya?

Semalam, bertepatan dengan hari Asyura sekaligus juga malam Jum'at Kliwon, adalah malam sakral. Saya kebetulan ikut mujahadahan di Kulon Progo. Bersama warga di sana, membangun kekuatan untuk menolak bandara. Perlu diketahui, saat ini ada proyek besar dari pemerintah setempat mau dibangun bandara internasional di wilayah sana.

Saya tidak bisa membayangkan, ada 4 desa yang pasti akan dihancurkan. Luluh lantah dengan landasan pesawat. Lalu, bagaimana dengan sawah mereka? karena sebagian besar warga di sana adalah para petani. Belum lagi dampak lingkungan yang ditimbulkan? Jadi, semua kejadian pasti ada isyarat dan petanda. Termasuk gempa semalam. Anda orang Jawa? pasti tahu dan yakin akan hal ini. Setiap kejadian pasti ada sabab musababnya.

Seperti pada hari Asyuro seperti saat ini. Di kalangan Sunni, telah diyakini bahwa pada hari ini; Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan Paus. Nabi Isa as. atau Yesus, diangkat ke langit (dirafa’) setelah tentara Roma gagal menyalibnya. Nabi Musa selamat dari bala tentara Fira’un disaat menyeberangi laut merah, Nabi Ibrahim selamat dari apinya Raja Namrudz ketika dibakar hidup-hidup. Dan lain sebagainya. Pertanyaannya kemudian, kenapa para Nabi diselamatkan oleh Tuhan dalam kondisi yang begitu berat? Pasti ada ihwal yang melatarbelakanginya. Ya, sabab musabab (lagi).

Saya kasih bocoran dikit. Coba amati apa yang dilakukan oleh beliau semua, para Nabi. Nabi Yunus (Dzun Nun), membaca do’a; “Laailaaha illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Min al-Dzolimin” (QS. Al-Anbiya’ 87). Silahkan buka bagaimana penafsiran dari surat ini. Begitu juga Nabi Ibrahim, sebelum dibakar oleh sang Raja, terjadi dialog antara keduanya, Apakah kamu yang menghancurkan berhala besar itu wahai Ibrahim. Nabi Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung (besar) itu yang melakukannya, maka tanyakannlah pada mereka, jika mereka dapat berbicara," jawab Nabi Ibrahim Lihat, QS. Al anbiya 62-63, dan cari penafsirannya. Wah, bisa jadi judul skripsi/tesis nih. ‘Kisah Para Nabi di dalam QS. Al-Anbiya’. Hehehe

Ya, semuanya tidak lepas dari petanda. Sewaktu saya di Kulon Progo semalam, saya diajak memasuki ruang peninggalan sinuhun ke IX. Di sana banyak benda-benda dan situs sejarah yang sangat istimewa. Mulai dari tombak, pusaka, mahkota, dan lain-lain. Ada juga candi wisuda petilasan. Dan konon, di Gunung Lanang di daerah Kulon Progo tersebut, di bawahnya ada candi dan sumur yang tidak terlihat (kasat mata). Bagi ia yang tidak mempunyai mata bathin, belum bisa melihatnya, termasuk saya. “Dan bisa dibayangkan mas, bila bandara jadi dibangun, betapa bodohnya pemerintah setempat.” Ujar bapak yang ikut masuk bersama saya.

Peninggalan para raja mataram itu akan hancur di tangan anak dan keturunannya sendiri. Bobroknya organisasi pemerintahan karena ulah para menterinya, karena sikap politik yang membabi buta. Carut marutnya lembaga/organisasi masyarakat bukan karena orang lain, tetapi karena diri sendiri. Jadi, berhenti menyalahkan orang lain, karena kehancuran suatu kaum, kehancuran suatu wilayah, kehancuran alam dan lingkungan karena diri kita. Bukan orang lain, kan? Lalu, ada petanda apa gempa yang terjadi di Jepara tadi pagi? Mengapa wilayahnya di Timur Laut? Wallahua’lam.




Saat ini fesbuk menyediakan ruang 'kenangan'. Disaat saya membuka akun ini, disodori beberapa kenangan-kenangan saya--kebanyakan berupa foto. Tertanggal: pada hari sekian, waktu sekian, jam sekian dan detik sekian. Batinku, fesbuk sepertinya begitu perhatian dengan kenangan-kenangan kita, sehingga dengan pedulinya; ia mengingatkan.

Masa lalu, adalah sebuah tamparan yang dulu pernah dilalui. Kenangan tidak untuk dikenang, tetapi dijadikan sebagai mozaik lukisan yang sudah kita mainkan--atas kehendak Tuhan. Siapa sih yang tidak ingin mengingat kenangan?

Beberapa waktu lalu, ketika sedang berkumpul bareng sama teman yang pernah mondok, kenangan kembali dibuka. Bagaimana kisahnya dulu ketika di pesantren. Saya pun sama menceritakan kisah hidup tatkala menjadi seorang santri, sampai sekarang pun juga alhamdulillah masih 'nyantri'. Hidup di pesantren dengan sejuta kisah dan kenangan telah menjadikan aku tahu apa arti 'barokah', apa arti 'persahabatan', apa arti 'silaturrahim', apa arti 'antri dan barmu', dan apa saja yang sebelumnya tidak aku ketahui, menjadi tahu.

Kenangan-kenangan itu pasti ada baik-buruknya. Tidak semua kenangan itu indah. Seperti halnya, kenangan yang ditampilkan di akun fesbuk ini. Dan fatalnya, jika kenangan yang ditampilkan itu ketika masih bersama sang mantan. Tertawa bersama, ngobrolin masa depan, kesana-kemari saling perhatian, maka, sebab itu, jangan kamu tulis kenanganmu di ruang ini, karena, selamanya akan mengabadi. Sungguh, fenomena akhir zaman.


Jogja, 22-10-2015



Halal bi halal, sebagaimana yang kita ketahui, adalah ajang pertemuan dalam rangka saling maaf memaafkan, saling sapa, dan saling mengenal antara keluarga besar dalam naungan “bani”. Acara ini adanya cuma setahun sekali, di Indonesia, di tanah Nusantara.

Ada banyak pertanyaan soal halal bi halal. Pertama, kebanyakan halal bi halal diartikan sebagai arti kultural: kosong-kosong. Dalam arti, antara si A dan si B tidak mempunyai hal-hal yang berkaitan dengan haqqul adami (lagi), kecuali hutang piutang.

Kedua, lalu bagaimana jika kata halal bi halal itu dipahami oleh orang Non-Indonesia? oleh orang Arab misalnya,  tentu akan menjadi ambigu dan terjebak dengan istilah penggunaan bahasa, kalau dipahami secara harfiah/letterlek.

Halal yang mempunyai arti ‘boleh’, bi berarti ‘dengan’, dan halal ‘boleh’, dan jika digabungkan menjadi—boleh dengan boleh. Ihwal tersebut tentu akan mengundang tanda tanya. Jangan-jangan halal bi halal disangka sebagai pertemuan antara kamu dan aku sudah halal; sah, berstatuskan suami istri, tidak jomblo lagi.

Ini yang berbahaya. Jika halal bi halal diartikan dari nama lain ijab qabul. Mungkin orang yang berpaham letterlek (tekstual an sich) beranggapan demikian karena di dalam halal bi halal itu ada kata silaturrahmi. Nah, lagi-lagi silaturrahmi itu juga soal bahasa.

Silaturrahmi kalau ditinjau dari leksikal bahasa adalah pertemuan atau menyambung tali uterus, rahim, kalau dalam bahasa jawa: telanaan. Ada juga yang mengartikan menyambung antara dua alat kelamin. Nah, bisa jadi itu tesis dari orang yang beranggapan kalau halal bi halal adalah pernikahan. Kalau belum nikah jadinya halal bi haram atau haram bi haram. Apa itu contohnya halal bi haram? Ya, kalau dalam fikih ya seperti orang yang sudah menikah tapi si istri lagi haidl, maka haram hukumnya kalau mau menyambungkan tali rahim atau berhubungan di atas ranjang.

Sedangkan haram bi haram contohnya jelas, yakni pacaran. Maka, acara seremonial dari halal bi halal itu sebenarnya adalah ajangnya para jomblo mencari yang dihalalkan atau ajang buat pembantaian para jomblo, di mana mulai dari simbah buyut sampai cucunya yang ketiga puluh menanyakan pertanyaan yang sama: kapan nikah?

Ada seorang ulama’ besar di Kudus yang mempertemukan antara istilah silaturrahmi dengan silaturrahim. Kalau silaturrahmi itu adalah logat Indonesia sedangkan yang silaturrahim itu cara pengucapan bahasa Arab, yang pada intinya adalah sama. Karena masyarakat kita memang unik dalam menyerap bahasa. Contoh lain adalah muhrim dan mahram. Kata muhrim biasanya diartikan sebagai orang yang masih bersaudara. Sering kali kita mendengar pengucapan kata itu, terutama ketika lebaran, di mana sewaktu bersalaman, “maaf, saya muslimah bukan muhrim antum”. Kalau dia memang konsisten, seharusnya penggunaan kata muhrim itu kurang tepat, yang benar adalah mahram (orang yang haram untuk dinikahi). Sedangkan muhrim adalah orang yang sedang menunaikan ibadah ihram (rangkaian dari haji).

Seperti kasus lain adalah tentang makna atau arti idul fitri yang sering kali diartikan “kembali suci”. Padahal idul fitri adalah hari raya makan-makan, karena satu bulan penuh umat Islam menunaikan ibadah puasa, sehingga haram hukumnya jika orang berpuasa di hari raya idul fitri.

Kembali ke silaturrahmi. Kata tersebut justru nusantarais banget, karena kebanyakan diantara kita lebih memilih menggunakan redaksi silaturrahmi dibanding dengan silaturrahim. Begitu juga dengan idul fitri, muhrim, dan halal bi halal. Lalu  kemudian, salahkah orang yang menggunakan penyerapan dari bahasa asing (Arab, dan lain-lain) yang dipahami oleh pribumi demikian?