Pengantar penulis

Menulis itu berat, biar aku saja yang melakukannya. Kalian tinggal baca aja :)

Pada bulan Januari kemarin, lebih tepatnya tanggal 24-29, agan-agan dan sista-sista FUPK 2008 (baca:PK ’04) sedang melakoni sebuah ritual yang menajubkan, yaitu perjalanan ke barat (goes to west kalo didalam bahasa inggrisnya). Eits, perjalanan ini bukan bermaksud untuk mencari kitab suci lho yaa.. Tapi, perjalanan ini merupakan program dari arek-arek PK’4 yang sudah tersistem, bahkan telah disahkan UUD negara republik fupk..hehe

Dikemudian hari, program yang kita beri nama rihlah[1] ini berbuah menjadi sebuah tradisi khusus bangsa fupk, terlebih bagi PK’4. Jadi, bila program ini nggak jalan, seakan-akan agan-agan dan sista-sista PK’4 menanggung dosa yang suangat besar..hehe. Sebagaimana yang tercantum didalam qowaidul fiqhiyyah, yaitu:  (العادة محكّمة) kebiasaan (adat) dapat dijadikan sebagai hukum. Jadi hukum rihlah disini adalah wajib. Waduh, terbawa atsmosfir suasana kuliah nich bro..hoho

Perlu diketahui, untuk lawatan ke barat kemarin, temen-temen PK’4 mempersiapkannya dengan baik dan matang, yaitu dengan menyisihkan uang saku makan tiap hari. Bahkan, ada sebagian teman, yang biasanya satu hari makan tiga kali, demi ikut rihlah, ia rela satu hari makan dua kali…belum lagi ditambah dengan puasa senin-kamisnya. Duch.. kapan lemune iki? Tapi hal itu tak menjadi soal, karena agan-agan dan sista-sista PK‘4 sudah teruji dan mendapatkan sertifikat dari MUI dalam hal ‘tirakat’[2]..hehe

Tibalah saatnya hari senin datang, teman-teman mulai sibuk mempersiapkan barang bawaan untuk menempuh perjalanan panjang, mulai dari pakaian, uang saku, dan mental, Semuanya dikemas dengan baik. Oiya, agenda rihlah ke barat kali ini adalah untuk menaklukkan Kota Majalengka dan Tangerang. Yang dituan rumahi oleh saudara Bayu dan Ubay (dua saudara kembar, serupa tapi tak sama) hehe..piss bro..!!

Kedua kota tersebut memang sudah menjadi angan-angan lama temen PK’4 untuk dikunjungi, karena menikmati suasana Ibu Kota dengan tawa canda bersama adalah bukan perkara yang mudah. Dan hanya orang-orang yang beruntung dan mendapatkan hidayah lah yang berkesempatan seperti itu. Hal itu terbukti, ketika ada sebagian temen yang tidak bisa ikut, duch.. sedih. nggak lengkap dech..:’(. Makanya, judul tulisan diatas, penulis refleksikan dengan ritual ibadah haji, karena apa? Seperti yang kita tahu, orang yang menjalankan ibadah haji itu murni anugrah dari Allah SWT. Adakalanya punya uang (bekal), tapi sakit. Adakalanya sehat, tapi kantong sempit, Ada pula fisik sehat kantong tebal, tapi visa dan pasport belum keluar… (bukan bermaksud nyindir lho ya??hehe). jadi, bagi ente-ente yang bisa ikut rihlah goes to west kemarin, bersyukurlah.. J


Cer-Cur (Cerita Curhat) Part 1.

“Za, tulung carterke angkot kanggo neng poncol yo..”ujar ketua rihlah kepada Rikza. Diakui atau tidak, jarak antara 41 dan poncol tak mungkin ditempuh dengan menggunakan jalan kaki..sikile iso lempoh mengko nda.. Oleh sebab itu, tak ada kata lain kecuali wajib nyarter mobil. Dan Rikza pun langsung bergegas mengambil motor bebek untuk mencari mobil berwarna orange bersama Sofyan . Setelah mendapatkan mobil dan tawar menawar harga dengan pak sopir selesai. Tiba-tiba, motor bebek yang ditunggangi Sofyan dan Rikza cemburu berat, rewel.. Alias mogok.  Telisik demi telisik, eeh… ternyata bensinnya habis…haha. Duch.. kasihan bener ni anak. Dan akhirnya pun dia ngos-ngosan mencari kedai penjual makanan untuk mesin sambil menuntun motor bebeknya tadi. Sabar..sabar..

Selepas urusan motornya selesai, Sofyan berjalan menuju lorong kamar asrama, dan berkoar-koar: ‘Wooii..cepetan..! Honda jazz dah nunggu di depan 41 tuch, maca’e gak sah suwe-suwe yo… Sambil tersenyum ciut, karena angkot diarani honda jazz. Si Ubay pun menimpalinya “Yoi cuy,.sabar” . “Oiya boy, ternyata anak putri dari tadi udah nyampe’ jrakah duluan.. ni di Hp gue banyak inbox dengan nada grutu nich.. kita disuruh cepet boz..!”ujar Autad. Didalam hati, penulis bergumam” wah..kalo nglencer-nglencer kayak gini, mereka semua pada ontime ya, beda ceritanya kalo mereka sedang pergi ngampus..hoho. piss bos..! Setelah semuanya siap, anak-anak pada minta pamit dengan penghuni asrama. “jaga asrama baik-baik ya gan.. (sambil bercipika-cipiki tangan) nanti kalo ada apa-apa tinggal sms aja.”kata Pak Boz. Dan kakipun mulai melangkah meninggalkan asrama. Baru berjalan 10 meteran. Ada kawan yang berteriak.”Oiii…pokere[3] keri cuy..!” tanpa pikir panjang, Sofyan langsung bergegas mengambil kartu ajaib tersebut, dan  kemudian memasukkannya kedalam tas.. sigap bener ni anak.

***
“Sudah semua pak, ayo cabut..!”kata Rikza ke pak sopir. Nanti berhenti di Jrakah dulu ya pak, menjemput temen putri. “siap boz, nyantae aja.”jawab pak sopir. Dari dalam mobil, penulis menatap aura wajah yang berseri-seri, bak bidadari surga. Namun, bila diamati secara terus-menerus, wajah yang nun indah berseri tersebut, dikit demi sedikit luntur dengan sendirinya, berbagai macam aneka ekspresi pun menghiasi wajah tersebut. Ada yang mletot-mletot, ada yang bibirnya berkomat-kamit, gremeng, dan lain-lain. Di benakku terbesit, ‘yach.. mungkin ini efek dari nunggu kelamaan kali ya..”. Dan dugaanku pun ternyata benar. Setelah semuanya pada masuk angkot, makhluk tuhan yang berhati pink tersebut, serempak bilang: Suwiii…!!haha Dengan wajah serba salah, pilihan utama adalah diam (meneng kui selamet nang, jarene wong tuo sich ngono)…ma’af sista.

Didalam angkot, kami nikmati dengan suasana desel-deselan. Bejone wes do adus…hehe. Dan sore itu, adalah pertanda kita selingkuh sebentar kepada Semarang karena mau melangsungkan ibadah rihlah ke Jawa Barat. Cekidot..!

Alhamdulillah.. tak terasa nyampe’ stasion Poncol juga..” ujar mbak Iin, seorang aktifis muda IAIN. Dan satu persatu, jasad para cendekiawan fupk menghampiri area luar stasion. “Perhatian kepada semua teman-teman, untuk sementara, kita diluar dulu ya.. sambil nunggu kedatangan simbok[4], karena kereta nanti cabut pukul 19.00 WIB (Waktu Indonesia berubah), jadi kita bisa rehat sebentar .”demikian pengumuman oleh ketua panitia. Eits, Baru saja menginjak di bumi stasion, Sindrom narcis ria mengahantui para kafilah Ngaliyan group. Ckrik-cckrik, jepret-jepret, ceprot-ceprot. Begitulah nada camdig. Ada yang bergaya ala model artis Nikita Willy, ada yang berposh ala pemulung sampah, pokoknya, pada sok cool dan sok gaul abiez dech. Yach..mungkin itu sudah menjadi ciri khas bagi semua orang. Bila didepan kamera, wajib bernarcis ria..bahkan, kalo hasilnya jelek, wajib diulang lagi, sampe’ yang memotret itu pegel, keseleo tangannya..hehe.

Waduch..simbok kok suwi men tho yo..”gerutu banyak orang. Dan waktu hampir mendekati maghrib, akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga. Dari arah kejauhan, ada temen yang menyanyikan lagu hitnya Wali band, sambil mengamati wajah simbok. ‘lihat gadis berkerudung merah..Oo..aku tergoda untuknya, siapa namamu siapa dirinya, ingat-mati-ingat mati ingat masa saat kau sulit ingat-ingat hidup Cuma satu kali.. duch.. nyanyine tekan ngendi kui rak ono alure..hehe. Ooo.. Dasrun..!!

***
Tuutt….Tuuuttt…Tuuuutttt… (teriak sumbu kereta api). Jam di HP mengarah pada bilangan 19.15. hal ini pertanda kereta mau berjalan menuju Pasar Senen. Namun, rombongan PK’4 nanti mau turun di stasion Prujakan Cirebon. Bergegaslah anak-anak masuk ruangan kereta. Si ubay langsung mencari dimana kita nanti bersemayam, mata mlotot, sambil mencocokkan tiket kereta dengan bangku yang mau kita duduki…”Ya, disini kita duduk. Kamu disebelah sana, dua tempat ini milik kita”papar Ubay. Wah.. kalo urusan didalam kereta kayak gini, dialah jagonya, mungkin dulu kakeknya adalah seorang masinis handal di Indonesia ya.. Bener nggak bay?hehe

Suasana didalam kereta pun terlihat cengkeremes.. banyak penumpang yang datang dari berbagai daerah. Tak jarang pula para pedagang asongan yang mondar-mandir, mulai dari mulut gerbong hingga buntut kereta. Mereka menjajakan barang dagangannya demi menghidupi kebutuhannya sehari-hari. Pemandangan para penjual asongan tersebut mudah ditemui dikereta ekonomi (baca: kereta yang merakyat). “mizone..mizone..mizone…kopi..kopi, jahe..jahe..kacang godok..kacang godok..telur asin..telur asin…rokok-rokok, tissu..tissu..pecel e telong ewu limangatusan mas… monggo-monggo.” Yach.. kangen dech dengan suasana yang seperti itu. Penulis sendiri merasa iba dan salut dengan para penjual didalam kereta tersebut. Semuanya berjuang, demi meraih penghasilan yang halal. Bukan dari hasil korupsi, tetapi dari keringat pribadi. Mansstaaab gan.!! Seperti lagunya Peterpan: kaki dikepala, kepala dikaki…demikianlah kiranya gambaran perjuangan hidup.

***
ZZZzzzzzttttt….ngrrrrrkkkk (demikian jeritan mulut yang sedang ngorok)… jepreettt..jepreeett..sssstt… ojo geger..”!! bisik Radhial yang mau mengabadikan moment teman-temannya yang sedang tidur pulas… inilah kejadian paling seru di kereta, wajah aslinya pada kelihatan semua dech..Disini, banyak ekspresi yang cukup aneh.. ada yang nggak terasa dengan mulut terbuka, alias ngowoh, dan ngeweh (ngiler)…ckckc pokoknya bisa ngebayangin sendiri dech gan.. kayak apa jurus temen-temen kalo pada tidurr…hag.hag.hag.

Tong..Teng..Tong.. perhatian-perhatian, sekarang ini kereta sedang berada distasiun Prujakan Cirebon (suara speker yang bersumber dari office stasion). “Heh..! wes tekan. Ayo.. Tangi-tangi..!!” ucap Jannah. sambil menggoyang-nggoyangkan kan tubuh temen disebelahnya. Bergegaslah rombongan FUPK turun dari kereta.

Hoi..Ziz..” sapa Vicky kepada Aziz. dia ternyata dari tadi udah nunggu nyampe’ jenggoten, demi menanti kedatangan tamu istimewa dari Semarang. “sana keluar, udah ditungggu mobil eleph sama bokapnya bayu..” suruh Aziz kepada Vicky. Ok..Boz…!!”sahut wanita yang mempunyai nama samaran Poetry birunya Maulana tersebut, entah dari mana asbabun nuzul nama itu..hoho

Waktu itu, jarum jam bersemedi di angka 00.15, ternyata kita sudah berada dihari selasa.. “oiyo, durung sholat isya’ karo maghrib yo..” ujar Rikza sambil mengingatkan temen-temennya. “Nyante, mau aku wes tak niati jamak taksir kok za.., eh, jamak ta’khir ndeng.. sahut”Autad.
Mobil pun langsung tancap gas menuju Majalengka…
Greng…greng…Hossshhh..!!

Sesampai dirumahnya si Bayu, temen-temen langsung disambut dengan hangat oleh pihak keluarga. Dan, hidangan mie rebus pun tatkala itu mampu meredam aksi keroncangan dan benturan keras suara perut.. rasane mie ne wueenak tenan, kenyal. Mergane weteng lage’ a’laihi (ngeleh), dadi opo-opo enak..hehe..

***
Tangi.. Tangi… Subuhan..subuhan…”gemuruh suara Aziz. dengan mengunakan kain sarung, ia berusaha membangunkan teman-temannya.. “Ah, mengko ndisek zis..jeh ngantuuk aku, tak ngumpulke nyowo sek.”jawab Autad dengan nada setengah sadar. Yah.. karena waktu itu badan terasa pegal dan nikmat bila dibuat untuk tidur.. tur yo syetane  pas iku guede..guede je..hehe

Sinar pantulan mentari beserta kicauan burung telah menyambut hari Selasa..
“Ayo.. Jam’iyyahhe digelar..wani pora ki??” ajak Mr. Gambler kepada para pengikutnya. Ayo…!!!” jawab pengikut sejati dengan kompak.
Tak terasa, permainan kartu tadi membawa para jam’iyyah pada pukul 09.00 WIB.
Wah.. mosok neng kene terus cah, ayo ah.. metu-metu neng ndi ngono?” ujar Simbok. Dengan wajah agak bosan menyoal suasana pagi itu. “Yowes, yowes.. rapat sek. Ena’e neng ndi?“sahut ketua panitia. Setelah diadakan rapat yang sempat tarik ulur mengenai jeng-jeng, akhirnya diputuskan. Habis dhuhur tepat, para rombongan menuju Kuningan, yaitu ke wisata Curug.. untuk pergi kesana, rombongan menggunakan mobil pick up dengan model terbuka, layaknya pedagang sayur di pasar-pasar…hehe

Kuningan adalah daerah yang terletak dikawasan pegunugan. Dengan suasana pepohonan karet yang rindang disertai udara yang sejuk, dan terhindar dari polusi.. wuuuiihh… terasa di surga bo..Diarea wisata tersebut, terdapat air terjun, kolam ikan, arena Outbond dan kolam renang.. pokoknya, manstab abiez dech  seharian kita disana. Oiya, disana juga terdapat nenek moyang kita lho..(bila yang mengikuti madzhabnya Charles Darwin)..hehe

Ketika waktu sudah mulai petang, kita putuskan cabut dari wisata Curug tersebut. Ditengah perjalanan, kita sempat mengabadikan moment sejarah bangsa Indonesia. Yaitu di lokasi terjadinya peristiwa Rengasdengklok. Disana adalah tempat sejarah yang termaktub didalam buku IPS sewaktu penulis masih duduk dibangku SD. Perundingan Lingggar Jati adalah salah satunya, bila tak salah mengingat.

***
Allahhu Akbar..Allahhu Akbar..
Pertanda adzan maghrib. “Habis maghrib nanti kita adakan pembacaan surat yasin bersama ya.. “usul tuan rumah. Malam itu juga sekaligus diadakannya upacara (banca’an) oleh penghuni rumah, karena istana yang ditempatinya terbilang baru. Sampe-sampe’ sewaktu datang dari Semarang, si Bayu nggak ngerti rumahnya sendiri. Seng ngendi yo.. omahku iku? Iyo rak yu?hehe.

Waktu terus berjalan nggak kenal kompromi..Tibalah hari Rabu. Hari itu kita agendakan menuju Tangerang, dengan menggunakan kereta api dari Prujakan Cirebon menuju Pasar Senen Jakarta. Sayangnya, dikereta nanti, arek-arek tidak mendapatkan jaminan tempat duduk, suasana dilema pun sempat menghampiri hati para cendekiawan muda. “Bonek-bonek sithik lah… mosok lungo-lungo ora ono tantangane..”ujar mbak Iin dengan nada meyakinkan temen-temennya. Walhasil, diadakanlah votting, dan dipilihlah suara terbanyak, yaitu: pergi ke Tangerang  melalui jalur kereta lagi..cihuuy…!!

Seperti dugaan sebelumnya, kita memang diprediksi tidak mendapatkan jatah kursi.. “duch.. siap-siap lempoh ki neng boyok..”keluh Nely. Namun, dengan perjuangan yang tinggi, dan keberanian menyusuri tiap gerbong.. akhirnya tempat duduk yang masih kosong pun melambaikan tangannya, memberikan harapan kepada rombongan... sebagian ada yang duduk, dan tak jarang yang berdiri.. jadi, disini ada istilah “seng waras ngalah-seng waras ngalah”…hehe. Bahkan, ada yang berdiri didepan toilet, sambil sesekali memegang hidungnya..ckck.. sabar broo itu kenangan indah buat kamu… J

Kereta melaju dengan kecepatan tinggi.. pasar senen pun semakin mendekat.
Disinilah tantangan berat bagi panitia rihlah, karena barang bawaan yang berupa tas, letaknya berpencar-pencar.. sedangkan para rombongan kebanyakan berada digerbong paling bontot.
Penulis amati satu persatu wajah para ibu-ibu FUPK, mereka memancarkan aura kecemasan, seakan-akan ada yang mengganjal dihatinya. “tenang aja, untuk masalah tas udah aman. Udah ada penjaganya” kata Autad sembari menenangkan para rombongan.

***
Toott…Teeeett…Toooot…. (suara jeritan speker di office di Pasar Senen).
Alhamdulillah.. nyampe Jakarta ..” ucap Ofi dengan rasa syukur..
Semua rombongan pun bergegas turun dari kereta. Antar satu sama lain, mereka mencuri-curi pandangan, seakan mengisyaratkan pertanyaan, dimana temen-temen yang lain?. Tak disangka, Drama perdana pun dimulai, yaitu ketika Tasnya si Jannah tertinggal di kereta. Dan panitia pun kalang kabut ketika berurusan dengan POLSUSKA (seorang petugas kepolisian di stasion). Karena didalam tas tersebut terdapat dua buah handphone dan sejumlah uang saku, ditambah lagi dengan baju ganti. Rasa panik pun mengahampiri sang pemilik, merasa mbo eman bila raib.

Seketika itu, langsung saja si Ubay bersama Radhial, berusaha sekuat tenaga untuk mencari tas yang tertinggal tadi. mereka berdua mondar-mandir di dalam gerbang stasion yang sudah terparkir dengan rapi, yaitu di kawasan Jakarta Pusat. Setelah berjam-jam berkeliling mencari tas dengan merk Tracker tersebut. Hasilnya pun nihil.. hati sang pemilik pun kian gusar, sedih dan teriris-iris, seolah-olah membayangkan dosa apa yang habis aku kerjakan semalam…, waduh.. terlalu mendramatisir ki..hehe.

Setelah beristirahat didalam masjid kurang lebih selama 2 jam sambil menunggu kedatangan Ubay dan Bos Red, saatnya menuju ke kediaman adik kita: Ubaydillah Fajri…hehe. Sore itu, keindahan Jakarta terasa sekali, yaitu bukan karena gedung-gedung yang berdiri megah, akan tetapi karena suasana Ibu kota yang saat itu sedang macet.. untung saja, didalam bus para rombongan udah kebagian tempat duduk, jika tidak? Bisa pingsan ditengah perjalanan kali ya…

Untuk menjangkau wilayah Ciledug-Tangerang, para rombongan membutuhkan waktu kurang lebih selama 3 jam. Karena macet sich.. memang benar apakata banyak orang. Hidup di Jakarta harus membawa makhluk tuhan yang bernama kang Shobirin, bila tidak. Kang Sutres akan menghampiri hidup anda…hoho.

“Alhamdulillah, tiada henti rasa syukur kita haturkan kepadaNya, akhirnya, Tangerang kita taklukkan juga” ucap ketua rihlah dengan hati yang penuh syukur. Dan rumahnya si Ubay dapat kita jinakkan dengan baik..:). Beriringan dengan itu, sambutan hangat dari pihak keluarga pun langsung menghampiri kedatangan para tamu dari Semarang.

Cer-Cur (Cerita Curhat) Part 2.

Perhatian kepada semua teman-teman, agenda kita besok adalah jeng-jeng ke Jakarta, dan tempat yang akan kita singgahi adalah Monas (Monumen Nasional) dan TMII (Taman Mini Indah Indonesia).. oleh sebab itu, persiapkan tubuh anda untuk besok,”demikian pengumuman dari ketua panitia. Sesuai dengan jadwal,  hari Kamis nanti, kita pusatkan untuk bertamasya mengelilingi suasana Jakarta, dan sekaligus sebagai obat penawar filsafat, yang kemarin telah menjamah habis semua isi otak temen-temen Pk’4. Jadi, besok adalah ajang pelampiasan..hehe

***
Tak terasa, sudah tiga hari para rombongan berada diluar kota. Yach.. hari ini adalah hari Kamis. Semua temen-temen menyambutnya dengan antusias yang tinggi. Karena hari ini kita akan berjalan-jalan mengelilingi kemegahan Ibu kota. Untuk perjalanan ke Monas dan TMII, panitia menyediakan bus Kopaja dengan bandrol.. 800.000 ribu, murah kan? Jarang-jarang lho ya.. satu hari berkeliaran di Jakarta dapet harga segitu…hehehe (promosi-promosi)..

Sesampainya di Monas, kita langsung disambut oleh guide, orangnya putih, berwajah cainis (china), dan ramah sekali dengan kehadiran kita. Disana kita diperkenalkan dengan museum yang terdapat didalam tugu Monas, dan ia juga menceritakan sejarah berdirinya monas, dan simbol-simbol[5] arti dari monas itu sendiri. Tak ketinggalan pula, dengan bangganya ia berbagi ilmu mengenai replika-replika yang terdapat didalam museum tersebut. Yang menceritakan sejarah perjuangan para pahlawan pasca penjajahan Belanda dan Jepang. Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada para pahlawan bangsa, karena dengan perantara beliau-beliau ini, kita bisa menikmati panorama indahnya Indonesia. Mereka semua rela mengorbankan jiwa dan raga demi meraih kemerdekaan. Aku bangga jadi anak Indonesia. Garuda didadaku…!! Wuissh…! Bergetaar..!!

Setelah capek mengelilingi museum, kita diajak mendaki tugu monas..eits, bukan pake’ tali kayak anak mawapala lho ya.. tapi, disini kita pake’ lift.. agak modern sedikit lah..hehe. sewaktu berada di ketiggian 155 kaki, angin berhembus kencang, pemandangan kota Jakarta dari ketinggian bisa kita nikmati dengan indah.. untuk lebih detail, harus pake’ teropong dengan cara memasukkan koin khusus. Kalo penulis gambarkan ya.. kayak di menara MAJT Semarang itulah.. pernah naik kan?. Setelah puas dari monas, kita istirahat sekaligus sholat di masjid terbesar se-ASEAN, masjid Istiqlal namanya.

            Disini ada tempat yang menarik, seperti yang kita tahu, lokasi masjid istiqlal itu berhadapan dengan gereja terbesar di Indonesia, yaitu gereja Catedral. Jadi, ketika kita sampai disana, terkesan saingan antara masjid dengan gereja, namun, dengan rasa toleransi yang tinggi antar umat bergama, hal-hal seperti itu tak menjadi soal, dan sangat konyol bila diributkan. Karena semuanya adalah orang Indonesia, berbeda-beda tetapi tetap satu jua (Bhineka Tunggal Ika gitu loh..). yang menghargai satu sama lain. Tidak seperti kasus yang marak akhir-akhir ini, yaitu kekerasan dengan claim (mengatas namakan agama), kasihan tuch agama selalu dikambing hitamkan, seakan-akan dialah yang paling benar, Apalagi jika tindak kekerasan yang dilakukan itu membawa nama-nama Tuhan segala. Duh, ngerinya negriku ini.

***
            Saatnya menuju TMII…!!” ucap Sofyan dengan nada semangat. Ia berekspresi seperti Bung tomo, tangan kanan menjulur ke atas..hehe
TMII merupakan kawasan wisata yang cukup asri dan mewah, karena didalamnya terdapat aneka replika rumah adat Indonesia dan bangunan tiruan yang dicebolkan. Semisal: bangunan tempat ibadah keong emas, bangunan pertambangan, dan lain-lain. Cukup banyak bila ditulis satu persatu..hoho.

Kawasan ini sangatlah luas, untuk mengitarinya saja, pengunjung harus menyewa sepeda gandeng, atau andong. Tak mengenal rasa lelah, si Bayu langsung nyamperin tukang sewa sepeda “pak, tarif sewanya berapa nich? Tanya Bayu kepada bapak tua. “20 ribu nak”jawab bapak pengelola rental tadi. Tanpa pikir panjang, uang 20 ribu langsung digelontorkan kepada bapak tua tersebut.  Lalu  diikuti oleh kawan-kawannya.. Tancap gas Boss…!

Ketika matahari sudah mulai tenggelam, waktunya temen-teman balik kandang…
Oiya, tak ada salahnya bila saya umumkan disini, SSStttt….!! Tadi ada temen kita yang sedang berbulan madu lho…kwkwkw dia disamperin gebetannya yang berdomisili di Depok.. :ngakak: pisss gan…! jadi, goes to west kali ini, tidak hanya sebagai ajang silaturahiem an sich, tetapi juga ajang bulan madu…. Hag.hag.hag. SSStttt.. jangan bilang siapa-siapa lho ya..

Di tengah perjalanan pulang, kita mampir dimasjid UIN jakarta untuk menjalankan sholat maghrib. Disana, banyak temen yang pada janjian, ketemuan dengan sohib lamanya. Yach.. kayak nostalgia gitu lah..  bahkan, ada yang rela untuk ditinggal bus Kopaja, sembari melepas rasa rindu di dada..hehe.

Sesampai di kediamannya si Ubay. Disetiap sudut tulang rusuk, terasa pegal-pegal dan penyakit encok kembali kumat.. Yach.. kalo habis muter-muter begini baru terasa.
Dan malem jum’at itu, kita hiasi dengan istirahat untuk persiapan balik ke Semarang..

***
Seusai sholat Jum’at, para rombongan berpamitan kepada bokap, nyokap, Nyai-nya si Ubay, oiya, tak ketinggalan pula neng Imah, I miss U.. wajahmu mengalihkan duniaku neng….cie...cie… ojo ono seng cemburu lho.. yo??hehe

Ketika menuju ke stasion Pasar Senen. Drama kolosal kembali terulang, dan dipermainkan dengan cukup apik oleh teman-teman… dag… dig… dug …dueerrr… !! kita kejar-kejaran dengan waktu, karena apa? Karena jadwal pemberangkatan kereta itu pukul 15.45, sedangkan pada pukul 15.00 kita masih diperjalanan. Didalam bus, kita amalkan pelajaran mata kuliah Sufism.. khouf, raja’, dan tawakkal selalu membimbing kita semua… yach, momen seperti inilah yang paling terkesan buat penulis dan mungkin sebagian besar teman-teman, kita berlari lari, dari terminal ke stasion, menyeberang jalan, belum lagi beli tiket, dan Akhirnya.. Kereta yang akan kita tunggangi belum berangkat, masih setia dengan kontrak kita.. sekali lagi, kita harus Bersyukur kepadaNya.. Matursuwun Ya Allah..

Conclusion

Sangat mengesankan sekali perjalanan Goes to west kali ini. Kenangan, pelajaran, dan rasa persaudaraan dapat terbingkai dengan indah.. semoga kita mendapatkan keberkahan dari rihlah go to west kemarin. Amien Ya Rabbal ‘Alamin. Dari saya pribadi, Mengucapkan Terima Kasih kepada semua teman-teman. Atas segala dukungan dan  Pastisisapinya. Tanpa kalian semua, apalah arti rihlah kali ini… J

Jepara. 11-02-2011





Daftar Pustaka

Lebayatun, Siti, Prof. Kamus Besar Bahasa Alay. Semarang: Pustaka Nggabrul.2010
Wagio, Mr. Senandung Indah Kitab Toret. Ngaliyan: Raja Gambler. 2011
Kangane, Koyo. Semiotika Bahasa: Ah Biasa wae. Pasar senen: Big Boz. 1945
Annasher, M. Autad . There is No Sufi without Humor. Jepara: Aan book store. 2012
http//www.autad-foundation.com
http//www.facebook.fupk2008.php.html


[1]. Rihlah adalah suatu program yang dibangun oleh komunitas fupk angkatan 2008, dengan agenda kunjungan (silaturrahiem) ke kediaman temen-temen. Dan program ini dilaksanakan tiap liburan  semester. Perlu diketahui, Komunitas PK 2008 merupakan founding father dari konsep rihlah yang ada. Sehingga banyak para intelektual muda IAIN Walisongo Semarang yang mengadopsi konsep tersebut. Tujuannya adalah untuk memupuk rasa kekeluargaan diantara pribadi masing-masing. Tidak hanya antar teman, tapi juga orang tua. Kalo didalam istilah pribadi penulis, bisa dikatakan sebagai: Bani FUPK..yeachh seperti itu kiranya..!


[2]. Didalam terminologi sufistik, perilaku tirakat adalah sebuah langkah yang ditempuh untuk proses pendekatan diri kepada Allah (taqorrub ilallah). Ada kalanya dengan berpuasa, berdzikir, dan uzlah (nyepi). Yang intinya adalah untuk meraih apa yang dicita-citakan. Termasuk direwangi weteng ngeleh barang…. Hahay.

[3]. Poker, adalah sebuah permainan khas yang menjadi hiburan penghuni asrama. Permainan ini bisa dimainkan oleh semua kalangan. Baik tua, muda, bahkan anak kecil sekalipun. Terpenting, tidak menggunakan uang, ato harta benda yang memiliki nilai. Karena itu termasuk perbuatan maisir (baca: judi), yang dapat merugikan. Dan dalam perspektif  agama jelas dilarang, tercantum dalam surat Albaqoroh: 219. Sebenarnya, bila kita berpikir sejenak. Bermain pokeran dapat berfungsi sebagai olah pikir otak, dan mengetahui cara bagaimana kita mengatur strategi politik. Mengingat kalimat Pokker sendiri terambil dari bahasa arab, yang berasal dari akar kata فَكَّرَ-يُفَكِّرُ . yang berarti berpikir. Jadi, ciri-ciri orang yang suka main poker an adalah orangnya sering berpikir, alias kakean pikiran…ckckck..

[4]. Simbok adalah nama lain dari Fatmawati Ningsih, dia mendapatkan laqob tersebut, lantaran usianya yang sudah mau, akan menginjak kepala tiga..hehehe

[5]. Didalam ilmu filsafat, pembahasan semiotika sudah tak asing lagi dipendengaran telinga, yaitu suatu pembahasan yang membincang mengenai simbol (tanda). Secara terminologi, Semiotika ialah ilmu tentang tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan berfungsi.  Intinya adalah membicarkan sebuah simbol. Nantinya kita akrab dengan istilah sign, signified and signifier…hoho



4 Comments to “RIHLAH GOES TO WEST”

  1. Bahwa untuk menjaga silaturrahim lebih mantab untuk saling sapa,,, apalagi di rumah,,,

  2. Anonim says:

    numpang komen gand...baru menemukan tanah lapang nan hijau n sejuk ini...hihihi

  3. Unknown says:

    Cerita ini hanya fiktif belaka mana kala di tahun ini tidak ada acara rihlah.

  4. hahaha... mkasih gaes, udah pada mampir...

Leave a Reply