Pengantar penulis

Menulis itu berat, biar aku saja yang melakukannya. Kalian tinggal baca aja :)

TOPENG

Suguhan musik yang dimainkan Iwan Fals semalam, benar-benar menggetarkan jiwa. Stadion Kridosono menggema dengan lagu-lagu kritik sosial. Alunan musiknya sungguh berkelas. Wajar jika fans bang Iwan (Orang Indonesia, Baca: OI) begitu militan, kemana dia manggung, selalu ada. Semalam, saya melihat 2 bus dari rombongan asal Pati, mereka nglurug ke Jogja demi melihat petikan gitar dan siulan harmonika dari bang Iwan. Itu belum termasuk rombongan dari luar kota yang lain.

Saya mendapatkan beberapa catatan menarik ihwal konser tadi malam. Pertama, ketika masuk antrian, saya membayangkan dengan kejadian (tragedi) di Mina bulan lalu, yang menewaskan ratusan orang. Bagaimana suasana yang mengerikan yang dialami oleh para jamaah haji di Mina itu? baru antri tiket saja seperti itu. Oh ya, bagaimana ya kabar terakhir kasus Mina itu? adem ayem kelihatannya.

Kedua, ribuan orang yang memadati stadion. Dari berbagai aliran, golongan dan sekte OI; tumplek blek, mereka rukun, tidak ada tawuran, gesekan sudah biasa karena menikmati lagu yang maha dahsyat. Para jama'ah Slankers dan OI rukun-rukun saja, walaupun mereka sama-sama mempunyai 'nabi' yang berbeda, tetapi mereka disatukan dalam rahim Indonesia. Saya kemudian berfikir, bisakah ormas Islam Indonesia ini berjiwa seperti penonton konser semalam? tidak perlu melakukan pelarangan ibadah dan takut dengan perbedaan, apalagi bawa pentung segala. Tugas kita adalah, bagaimana cara menyadarkan mereka, kalau kita itu orang Indonesia?

Masak sama kumpulan anak muda Rausyan Fikr yang diskusi tentang filsafat, takut sih? Masak berIslam harus kayak kamu semua?--kalau ditilik dari konser semalem--masak berjoged harus disamakan gayanya? Apabila gaya jogedmu tidak seperti ini, maka kamu sesat! sebegitukah? Justru dengan perbedaan seharusnya bisa menjadi kekuatan, seberapa besarkah kita bisa menghargai perbedaan berjoged atau ber-Islam?

Ketiga, adalah belajar dari sosok Bento. Semalem, Iwan Fals membawakan lagu bento. Bento itu orangnya licik. Dia selalu memanfaatkan kepentingan dan kekuasannya untuk menumpuk kekayaan dengan melakukan tipu muslihat. Ngalor-ngidul ngomongin soal moral dan keadilan, tetapi hanya dijadikan alat politik dan pembenar demi menggilas musuh-musuh politiknya. "Saya baru nyadar, kalau para koorporasi dan pembakar hutan itu orang-orang bento". Cetus Iwan Fals. Sebagaimana yang kita tahu bersama, kasus Asap, sampai saat ini belum juga usai.

Jangan dikira, yang terlihat di layar kaca sebagai sosok yang ksatria, baik, jujur, adil, tetapi dibelakang layar ternyata sebagai dalang kerusakan lingkungan, Siapa duga? banyak mereka melalui iklan di tivi-tivi, mengkampanyekan soal lingkungan, tetapi siapa sangka mereka adalah dalang dari semua itu? pembakaran hutan!

Dan atau, di mana-mana dia menggunakan topeng 'ke-KIAI-an, ke-Ustadz-an, dan ke-Ulama'an-nya. Tetapi, siapa yang bisa menyangka kalau kerusuhan, pertikaian antara saudara, dan peristiwa amuk massa itu justru dia sendiri skenarionya?

Jogja, 25-10-2015




Kurang lebih ada tiga alasan seseorang mau nyantri, hidup di pesantren. Pertama, bisa jadi di rumah dia nakal, terus oleh orang tuanya ditaruh di pesantren. Agar kelak menjadi anak yang baik. Kedua, karena dia memang benar-benar ingin mendalami ilmu agama secara lebih--ya, mungkin dia anaknya kiai/tokoh masyarakat di desanya--sehingga diharapkan nanti bisa menjadi penerus sang ayah. Ketiga, bisa jadi dia ikut-ikutan, entah karena ada tetangganya yang mondok, atau kakak/saudara sepupunya yang sudah duluan bertempat tinggal di pesantren. Namun yang jelas, tujuan dari ketiga alasan tersebut mempunyai muara yang sama; mencari ilmu.

Dulu, oleh guru saya di sekolah, beliau berpesan; seingat saya sih kalau tidak salah pas ngaji kitab Ta'limul Muta'allim. Jadi pesan beliau begini: "anak-anakku kabeh, nalikane sira lungo belajar, luru ilmu, ojo lali niat ditoto, sing pertama yaiku, supaya entuk ridhone Gusti Allah, sing kaping loro yaiku niat ngurip-ngurip agama Islam, terus sing kaping telune diniati ngilangake kebodohan." Hal-hal yang seperti ini, di sekolah madrasah manapun, saya kira semua menerapkannya. Saya tidak tahu bagaimana di sekolah-sekolah umum, seperti SMP.SMA, dll.

Sebelum dan sesudah belajar pun ada ritual do'anya. "Ya Fattahhu Yaa 'Alim-Iftah Lanaa Baaba Fadhlikal 'Adzim." (doa pembuka). "Subhanarabbika Rabbil 'Izzati" (do'a penutup). Dan hal-hal seperti ini hampir tidak pernah saya temukan sewaktu di bangku kuliah. Terkadang, pas pertama kali masuk di dunia kampus, saya merindukan hal-hal yang begitu; doa. Kelihatannya sih sederhana, sepele, tapi penting.

Di kalangan pesantren, do'a memang menjadi andalan, senjata utama. Tidak hanya seusai mengerjakan shalat an sich, tetapi di dalam segala hal. Mulai bangun tidur, sampai tidur lagi, diajarkan do'a. Dalam analisis Toshihiko Izutshu--seorang orientalis asal Jepang--itulah yang dinamakan relasi Tuhan dan manusia dalam bentuk komunikasi verbal. Yakni dari manusia ke tuhan. Lebih lanjut bisa baca bukunya; God And Man In The Koran.

Dari do'a ini kemudian memunculkan hal-hal yang irasional. Contohnya, sewaktu saya nyantren dulu, para santri sebelum ujian (terutama pas UAN), biasanya manakiban dulu, ziarah, minta do'a ke para kiai/sesepuh nanti dikasih air, lalu suruh minum, dan, terpenting adalah, dulu istilahnya "ngisiake polpen/pencil". Jadi, polpen/pencilnya dikumpulin jadi satu, terus diisikan ke kiai yang ampuh. Walaupun memang terkadang menjadi sindiran oleh sebagian teman-teman saya, "terus polpene iso mbunderi dewe ngono?". hehehe. jaman semono, Bahkan, yang lebih mistis lagi adalah di ruangan ujian itu disebar tanah dari kuburan, sambil diwirid, supaya bapak penjaga ujian ngantuk. Hayo, kae kelakoane sopo ngono iku?heuheuheu

Do'a, mantra, wirid, ataupun lainnya yang berupa pengharapan dari hamba ke Tuhan merupakan sugesti. Anda yang tidak bertuhan sekalipun (katakanlah atheis), pada hakikatnya akan mengakui keberadaan-Nya, mengakui ada kekuatan besar diluar diri kita, dengan fakta bahwa selalu ada pengharapan-pengharapan, selalu ada do'a-do'a di dalam hati kecil kita. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Bahkan, Tuhan sendiri pun berdo'a kepada hambanya, yakni dengan bersholawat kepada Nabi Saw.

Walaupun demikian, tidak semua do'a, harapan, keinginan yang kita minta selalu diijabahi dan dikabulkan oleh-Nya. Karena itu, tidak semua do'a itu baik untuk kita, dan tidak semua permintaan itu menjadikan diri kita lebih baik (seperti gambaran di film drama religi yang diperankan oleh Aming; "Do'a yang Mengancam").

Bukankah telah banyak diantara kita yang tidak meminta tetapi diberi, dan yang terus-terusan meminta tidak kunjung ditepati? tanya kenapa?
Jogja, 6-11-2015